Internasional

Mantan Jenderal Israel Sebut Program Nuklir Iran Sulit untuk Dilumpuhkan, Ini Penyebabnya

Mantan Jenderal Israel Sebut Program Nuklir Iran Sulit untuk Dilumpuhkan, Ini Penyebabnya

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
AP Photo via Atomic Energy Organization of Iran
Foto ini dirilis Kamis, 2 Juli 2020, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan sebuah bangunan setelah dirusak oleh api, di fasilitas pengayaan uranium Natanz sekitar 200 mil (322 kilometer) selatan ibukota Teheran, Iran. Sebuah kebakaran membakar gedung di atas fasilitas pengayaan nuklir Natanz bawah tanah Iran, meskipun para pejabat mengatakan itu tidak mempengaruhi operasi centrifuge atau menyebabkan pelepasan radiasi 

TRIBUNJOGJA.COM, TEL AVIV – Mantan jenderal Angkatan Udara Israel Amos Yadlin mengaku upaya untuk menghancurkan program nuklir Iran sulit untuk dilakukan.

Salah satu kendalanya adalah lokasi program nuklir Iran tersebar di sejumlah situs dan minimnya informasi intelejen terkait dengan program tersebut.

Yadlin sendiri merupakan mantan prajurit Angkatan Udara Israel yang terlibat langsung dalam penghancuran program nuklir Irak dan Suriah.

Dia berpartisipasi dalam pengeboman fasilitas nuklir Irak pada Juni 1981 sebagai bagian dari Operasi Opera.

Setelah itu, kariernya moncer.

16 tahun kemudian, dia diangkat sebagai kepala intelijen militer Israel pada 2007 sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Senin (19/4/2021).

Kala menduduki jabatan itu, Yadlin juga membantu merancang Operasi Orchard yang menargetkan dan menghancurkan fasilitas nuklir milik Suriah.

Kini, dalam wawancaranya terbarunya dengan CNBC, dia menjelaskan bahwa menangani program nuklir Iran sangat berbeda.

Hasil wawancara dengan Yadlin diterbitkan pada Sabtu (17/4/2021).

Yadlin mengatakan, faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah elemen kejutan.

"Saddam dan Assad terkejut. Iran telah menunggu serangan ini selama 20 tahun,” kata Yadlin.

Baca juga: Insiden Kecelakaan Timpa Fasilitas Pengayaan Nuklir Milik Iran

Baca juga: Israel Balas Dendam, Serang Kapal Kargo Iran Saviz yang Dicurigai jadi Pengkalan Garda Revolusi Iran

Selain itu, program nuklir Irak dan Suriah terpusat di satu wilayah.

Sementara fasilitas nuklir milik Iran dijaga dengan ketat dan tersebar sejumlah situs di seluruh negeri.

Dia menambahkan, keadaan itu membuat upaya serangan terhadap program nuklir Iran menjadi jauh lebih kompleks.

Lebih lanjut, Yadlin menekankan bahwa badan-badan intelijen tidak memiliki laporan yang memadai mengenai semua fasilitas nuklir milik Iran.

Beberapa di antara fasilitas nuklir milik Iran dilaporkan tersembunyi di bawah tanah dan di daerah pegunungan.

Secara keseluruhan, Yadlin menuturkan bahwa Iran telah belajar dari apa yang telah mereka lakukan.

“Tetapi kami juga telah belajar dari apa yang telah kami lakukan dan sekarang kami memiliki lebih banyak kemampuan,” sambung Yadlin.

Yadlin juga menyinggung bagaimana Iran mengeklaim mampu memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen.

Untuk dapat membuat senjata nuklir, dibutuhkan uranium dengan kemurnian 90 persen.

"Mereka bisa memiliki cukup uranium yang diperkaya untuk menghasilkan dua atau tiga bom dengan cepat,” ujar Yadlin.

Dia menambahkan, rencana untuk menyerang dan menghancurkan program nuklir Iran tampaknya merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia untuk Israel.

Menurut CNBC, mengutip ahli strategi militer Israel, opsi lain yang bisa diambil Israel untuk menghadapi program nuklir Iran adalah mendorong perjanjian yang lebih kuat antara Iran dan penandatangan kesepakatan nuklir.

Selain itu, Israel juga bisa menggunakan sanksi dan diplomasi untuk terus menekan Iran dan menggunakan serangan rahasia seperti serangan siber.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pensiunan Jenderal Israel Akui Tak Mudah Lumpuhkan Program Nuklir Iran

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved