Breaking News:

JPW Soroti Beberapa Kejanggalan Kasus Klitih di Jalan Ngeksigondo Yogyakarta

Kali ini, korbannya seorang pelajar bernama Kevin (15). Ia menjadi korban klitih di depan RSKIA Jalan Ngeksigondo Prenggan Kotagede

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh
Ilustrasi Klitih 

Namun, kasus dengan pelaku berinisial D disebut masih di bawah umur. 

Menurut Pasal 1 angka 3 UU 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Yang menerangkan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan  tindak pidana.

"Pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri wajib diupayakan diversi yang hanya dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan. Yakni diancam pidana penjara di bawah 7 tahun dan bukan pengulangan tindak pidana," tutur Baharuddin.

Ia menjelaskan, diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Proses diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan anak dan orang tua/walinya, korban dan/atau orang tua/walinya, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional berdasarkan keadilan restoratif.

"Nah apakah proses diversi sudah dilakukan atau belum? Dan proses peradilan pidana anak akan dilanjutkan jika proses diversi tidak menghasilkan kesepakatan atau kesepakatan tidak dilaksanakan," beber Baharuddin.

Terakhir, lanjutnya, Polsek Kotagede Yogyakarta terkesan buru-buru dengan tidak melakukan penahanan terhadap pelaku D.

Menurutnya, diharapkan ada itikad baik dari pelaku, minimal membesuk korban bernama Kevin di rumah sakit dan meminta maaf kepada korban dan keluarga korban.

"Apa pun dan siapa pun yang melakukan tindak pidana berupa kekerasan (klitih) adalah salah," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved