Buah Bibir
BUAH BIBIR : Zakia El Muarrifa Senang Kembali Menikmati Ramadan di Kampung Halaman
Setelah dua tahun merantau di Melbourne, Australia, Zakia dapat kembali berkumpul bersama keluarga di Indonesia.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
"Dan agak lumayan capeknya lagi adalah karena saya ndak punya kendaraan pribadi saat di sana, jadi harus jalan kaki beberapa kilometer, atau naik angkutan umum, untuk pergi ke masjid," paparnya.
"Dan masjid-masjid yang mayoritas isinya orang Indonesia, kultumnya pun menggunakan bahasa Indonesia," imbuhnya.
Begitu pula dengan Salat Id yang juga berbeda dari Indonesia.
Zakia mengatakan, saat Idulfitri, khotbahnya pun ada tiga bahasa, Indonesia, Arab, Inggris, karena memang lumayan banyak orang Indonesia yang tinggal di daerah tersebut. Tapi itu waktu tahun 2019 ya," ungkapnya.
Lanjutnya, padaahun 2020 kemarin memang tidak diadakan Salat Id karena ada hard lockdown di mana semua kegiatan berkumpul ditiadakan.
"Kami bahkan dilarang keluar rumah tanpa alasan yang diperbolehkan oleh pemerintah Victoria selama kurang lebih dari 8 minggu selama masa lockdown tersebut, termasuk saat bulan Ramadan," kenangnya.
Zakia juga merasakan waktu puasa yang lebih singkat dari Indonesia.
"Enaknya puasa waktu itu di sana adalah karena puasanya yang lebih sebentar dari di Indonesia. Karena Ramadan jatuh saat musim dingin di Australia, maka puasanya tidak terlalu lama," kata dia.
"Subuh kira-kira datang pukul setengah 6 pagi, dan magrib sekitar pukul 5 sore. Jadi kebalikannya kalau puasa di Eropa atau Amerika yang bertepatan dengan musim panas yang menjadikan siangnya menjadi lebih lama dari biasanya," ujar perempuan yang pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika ini.
Baca juga: BUAH BIBIR : Gloria Setyvani Putri Geluti Profesi Wartawan, Ibarat Sekolah Gratis
Hal yang juga ia rindukan dari ramadan di Indonesia yakni suara azan yang berkumandang dari pengeras suara masjid.
"Yang tidak ada di sana mungkin suara azan dr TOA masjid ya. Jadi denger azannya dari aplikasi di ponsel," kelakarnya.
Zakia menambahkan, saat di Melbourne tidak ada hari libur menjelang Ramadan atau saat Idulfitri di sana.
"Jadi tetap harus bekerja dan belajar. Saya ingat waktu 2019, setelah Salat Id, tidak bisa langsung silaturrahim dengan kawan-kawan, karena harus menghadiri konferensi terlebih dahulu," ujarnya.
"Selain itu, saat Ramadan tiba, justru sedang banyak-banyaknya deadline tugas kuliah dan juga ujian mid term," ucapnya.
"Jadi, memang harus pandai-pandai mengatur waktu dan stamina antara menjalankan kewajiban menuntut ilmu, dan juga beribadah baik yang wajib maupun sunah di bulan Ramadan," tutupnya. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/buah-bibir-zakia-el-muarrifa-senang-kembali-menikmati-ramadan-di-kampung-halaman.jpg)