Kabupaten Bantul

Temuan Cikungunya di 2 Padukuhan, Puskesmas Pleret Minta Warga Lakukan PSN

Sebanyak 19 warga Padukuhan Brajan, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret terjangkit cikungunya.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
halodoc.com
ilustrasi nyamuk penyebab chikungunya 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sebanyak 19 warga Padukuhan Brajan, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret terjangkit cikungunya.

Dari 19 warga tersebut, 5 diantaranya reaktif rapid tes cikungunya.

Kepala Puskemas Pleret, Erni Rohmawati mengatakan pihaknya baru menerima laporan dari Dukuh Brajan beberapa hari lalu.

Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas kemudian melakukan penelurusan.

Baca juga: Puluhan Orang di Kota Yogya Diduga Terserang Chikungunya, Warga Curigai Nyamuk ber-Wolbachia

Erni menyebut 19 warga Brajan mengalami gejala yang sama.

Gejala yang umumnya dialami ialah demam dan nyeri sendi. 

"Ada 19 warga yang mengalami gejala, gejalanya sama semua. Kami ambil sampel 5 dan ternyata hasilnya reaktif. Saat ini dilakukan rawat jalan," katanya, Jumat (16/04/2021).

Selain warga Padukuhan Brajan, cikungunya juga terjadi di Padukuhan Gunungan, Kalurahan Pleret.

Ada dua sampel yang diambil dan hasilnya reaktif rapid tes cikungunya.

"Kami dapat laporan dua minggu lalu. Sementara baru ada dua padukuhan di Pleret yang terjangkit cikungunya. Kami sudah laporkan ke Dinkes Bantul untuk dilakukan fogging. Yang Gunungan sudah, tetapi yang Brajan masih kami koordinasikan," sambungnya

Langkah yang bisa dilakukan warga untuk mencegah penularan cikungunya adalah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sebab cikungunya disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albopictus yang juga menyebabkan demam berdarah. 

Baca juga: Musim Hujan, Warga Bantul Diminta Tingkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Namun karena adanya pandemi COVID-19, ia meminta warga melakukan PSN secara mandiri. 

"Kalau kerja bakti kan tidak bisa, karena ada pandemi COVID-19. Jadi PSN bisa dilakukan secara mandiri di lingkungan sekitar rumah masing-masing,"ujarnya.

Ia menambahkan ada kemungkinan cikungunya meluas ke daerah lain.

Sebab jika sarang nyamuk masih ditemukan, maka kemungkinan penularan masih ada. 

"Kebetulan di daerah yang terkena itu banyak kebon (pekarangan tidak terurus), tidak ada pemiliknya. Jadi ya tidak ada yang tanggungjawab. Kalau warga sebenarnya sudah melakukan PSN di rumah,"tambahnya ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved