Menilik Sejarah dan Natah Timbul Kerajinan Kulit di Manding Bantul

Berkunjung ke Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak lengkap jika tidak mampir ke Manding.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribun Jogja/Hamim Thohari
ILUSTRASI Berada di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo Manding Sabdodadi , Bantul, kawasan ini telah dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit sejak tahun 1957. 

Meski demikian, perajin kulit masih bertahan dan mengembangkan Manding menjadi desa wisata. Tak hanya menjual hasil kerajinan kulit saja, tetapi juga menjual ilmu dan pengalaman.

Paket Wisata

Banyak daerah datang ke Manding untuk belajar. Namun dengan adanya pandemi COVID-19 tentu ada protokol kesehatan yang harus ditaati oleh pengunjung. Salah satunya adalah surat bebas COVID-19 bagi pengunjung luar daerah.

Ada dua paket kegiatan yang ditawarkan:
Pelatihan  Souvernir
Pelatihan membuat gantungan kunci, dompet, tempat pensil dari kain perca
- Bahan baku kain perca
- Setiap 1 kelompok terdiri dari 10 anak akan didampingi 1 instruktur
- Biaya administrasi Rp400.000
- Durasi  1 sampai 3 jam
- Hasil praktik bisa dibawa pulang

Pelatihan Natah Timbul 
- Setiap kelompok maksimal 5 orang
- Bahan baku kulit dan peralatan disediakan
- Durasi 1 sampai 3 jam
-  Adminitrasi Rp300.000
- Pelatihan  samapi 3 hari, dari pukul 08.00 hingga 16.00, biaya Rp600.000 per hari

Selain membuat kerajinan, Desa Wisata Manding juga menyuguhkan wisata budaya. Namun hal itu disesuikan dengan permintaan dari pengunjung.

Baca juga: Berpotensi Mengganggu Ketertiban, Satpol PP Awasi Petasan di Bantul

Rute

Untuk menuju Desa Wisata Manding cukup mudah. Dari pusat kota Yogyakarta menuju ke Jalan Parangtritis sekitar 10 km. Kemduain setelah sampai di simpang empat Manding belok kanan.

Ada gapura yang akan menyambut sebelum memasuki Manding. Waktu tempuh sekitar 30 menit.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo menyebut Manding adalah sentra kerajinan kulit terbesar di Manding. Banyak wisatawan yang datang untuk berbelanja.

"Dari desa wisata lain, kunjungan tertinggi memang di Manding. Karena di Manding lebih ke wisata belanja. Banyak sekali wisatawan yang dtang khusus untuk belanja kerajinan kulit," ujarnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved