Kabupaten Sleman
Desa Wisata di Sleman Siap Sambut Wisatawan, Tapi Belum Berani Buka Total
Saat ini desa wisata dibuka sebatas untuk wisatawan lokal, maupun penyewa fasilitas untuk kegiatan daring dan pertemuan dengan skala kecil.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Sebab, saat awal pandemi, pengelola memilih menghentikan operasi desa wisata.
"Selama COVID-19 ini (pengunjung) agak turun," ujar Ketua Desa Wisata Pulesari, Sarjana.
Dewi Pule merupakan desa wisata mandiri yang menempati lahan seluas 25 hektar.
Fasilitas yang ada di dalamnya terbilang sudah cukup lengkap.
Ada pendopo, tempat ibadah, toilet umum, gardu ronda hingga home stay. Lokasi desa wisata Pulesari dikelilingi oleh sungai Bedog.
Menurutnya, sungai Bedog biasa digunakan wisatawan untuk padusan menjelang Ramadan.
Namun, saat pandemi ini kondisinya sepi.
Padahal sebelum pandemi, kata dia ramai wisatawan yang padusan di Sungai Bedog.
"Sekarang sepi. Paling nanti hanya warga lokal saja yang padusan di Bedog," tuturnya.
Baca juga: Selama Libur Paskah, Kunjungan Wisatawan di Sleman Meningkat
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa sebelumnya mengatakan, untuk pemulihan ekonomi di sektor pariwisata, maka wisata berbasis desa bakal digenjot.
Menurut dia, berdasar jajak pendapat, sektor Pariwisata yang diminati ke depan adalah wisata alam terbuka.
Sementara, Kabupaten Sleman menurutnya tidak banyak destinasi alam yang bisa dimaksimalkan menjadi objek wisata.
Sebab, wisata alam paling banyak, berada di wilayah utara, seputar lereng Merapi dan masuk KRB (kawasan rawan bencana).
"Karena itu, pengembangan pariwisata, kami akan fokus di desa wisata," tutur Danang.
Pendampingan desa wisata menurutnya akan terus dilakukan.
Di sisi lain, program vaksinasi juga terus dijalankan, sehingga nanti setelah pandemi berangsur selesai, desa wisata di Kabupaten Sleman bisa menjadi jujugan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)