Kisah Seorang Ayah di Jogja, Usahanya Gulung Tikar, Kini Jualan Bensin Eceran Demi Biaya Kuliah Anak

Sebelumnya, pria asli Sumatra ini menjalankan usaha dengan menjual pempek yang bermitra dengan pengusaha catering.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
Erawin saat memulai usaha barunya berjualan bensin eceran untuk biaya kuliah anaknya, Senin (5/4/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 sudah berlangsung satu tahun lebih.

Banyak sektor usaha yang terpukul karena adanya pembatasan aktivitas.

Salah satunya dialami Erawin yang saat ini dirinya beralih usaha menjual bensin eceran untuk terus bertahan hidup dan membiayai anaknya kuliah.

Sebelumnya, pria asli Sumatra ini menjalankan usaha dengan menjual pempek yang bermitra dengan pengusaha catering.

Baca juga: Kisah Sepasang Petani Asal Tegal Jawa Tengah, 4 Dari 9 Anaknya Berpangkat Kolonel TNI

Baca juga: Kisah Asal-usul Kampung Pitu di Gunungkidul, Hanya Dihuni 7 Keluarga hingga Mitos Kepercayaan Warga

Karena sudah satu tahun tidak ada event atau acara pernikahan dengan melibatkan orang banyak, usaha yang ia rintis itu pun gulung tikar.

"Daripada nggak ada kegiatan di rumah, ya saya jualan bensin eceran ini pakai sepeda. Disarankan teman, karena usaha pempek saya sepi. Kalau diam di rumah gak ada yang ditunggu, kalau di sini jualan bensin kan ada yang ditunggu (pembeli)," katanya, kepada Tribun Jogja, Senin (5/4/2021).

Ia mulai berjualan bensin sejak Februari 2021. Sebelumnya, Erawin mencoba melamar sebagai satpam disalah satu perusahaan swasta di Kota Yogyakarta.

Usianya yang sudah mencapai 56 tahun, ditambah tidak ada basic pelatihan satpam, lamaran pekerjaan yang ia kirim pun tidak ditanggapi oleh perusahaan.

"Belum ada panggilan sampai sekarang, ya ternyata Satpam itu kan milihnya yang muda-muda," jelasnya.

Bapak dua anak ini mulai membuka lapaknya sejak pukul 06.00 WIB hingga 11.00 WIB siang.

Setelah itu dirinya pulang ke rumah untuk memimpin salat di musala kampungnya yang berada di Jalan Gamelan Kidul, Magersari, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta.

"Lanjut jualan lagi jam 14.00 sampai jam 18.00, lalu panjut lagi jam 19.00 sampai malam," ungkap Erawin.

Dalam satu hari, dirinya mampu menjual 30 hingga 50 botol bensin eceran dengan harga untuk jenis pertalite per satu botol Rp10 ribu, sedangkan jenis Pertamax per botol ukuran satu liter Rp11 ribu.

Baca juga: Kisah Petrus Adi Utomo, Pengamen Puisi di Parangtritis Hibur Wisatawan Lewat Untaian Kata-kata Indah

Baca juga: Kisah Kakek 74 Tahun yang Telah Makamkan Ratusan Jenazah Covid-19, Tapi Belum Dapat Jatah Divaksin

Hasil penjualannya itu ia gunakan untuk menghidupi keluarganya, termasuk untuk membiayai putra pertamanya yang kini sedang menempuh studi di kampus swasta Kota Yogyakarta.

"Hasilnya buat keluarga, dan biaya anak sekolah. Yang pertama itu anak saya di UMY, sudah mau lulus, dan yang kedua sudah lulus SMK. Saya tinggal di sini karena istri asli sini," ungkapnya.

Sehari-hari ia berjualan bensin eceran menggunakan sepeda. Ia biasa mangkal di sekitar Jalan Gamelan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

"Saya pilih di sini karena lalu lintasnya ramai, tapi penjual bensinnya jarang," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved