Indonesia Gastronomy Community Luncurkan Gastronosia: Dari Borobudur untuk Nusantara

Indonesia Gastronomy Community (IGC) meluncurkan sebuah mahakarya program gastronomi Indonesia bernama Gastronosia-IGC

Tayang:
ist
Makanan yang bersumber dari relief Candi Borobudur yang ditampilkan saat peluncuran IGC 

TRIBUNJOGJA.COM - Indonesia Gastronomy Community (IGC) meluncurkan sebuah mahakarya program gastronomi Indonesia  bernama Gastronosia-IGC.

Mengungsung tema “Dari Borobudur untuk Nusantara” program ini diselenggarakan di restoran Rama dan Sinta, Candi Prambanan, Yogyakarta, Minggu (4/4/2021).

Gastronosia adalah sebuah program dari IGC untuk merekonstruksi kejayaan gastronomi nusantara di masa lampau yang relevan digunakan di masa kini.

Peluncuran tersebut memperkenalkan hidangan yang terdapat pada prasasti penetapan Sima dan relief abad VIII – X terutama dari Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Cabean Kunti.

“IGC melakukan eksplorasi guna memberikan edukasi mengenai perkembangan gastronomi dari sudut sejarah melalui relief dan prasasti sebagai salah satu misi kami dalam memperkenalkan Indonesia sebagai pusat budaya makanan,” kata Ria Musriawan, Ketua Umum IGC saat peluncuran Gastronosia-IGC dalam rilis yang diterima tribunjogja.com.

“Dengan mengangkat konsep bahwa makanan adalah budaya bangsa, maka gastronomi Indonesia dapat berperan dalam misi-misi diplomasi dan meningkatkan ekonomi melalui gastro-turisme maupun gastro-prenuership," katanya lagi.

Ketua Panitia Gastronosia, Ratna Nuryanto menyebutkan bahwa persiapan peluncuran acara memakan waktu cukup panjang.

Hal itu untuk memastikan bahwa interpretasi makanan dari relief dan prasasti sudah tepat dengan penamaan makanan dan budaya pada masa Mataram Kuno.

“Selain studi yang dilakukan oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah, kami juga mengadakan diskusi terbatas dengan para ahli,” jelas Ratna.

 “Para ahli Universitas Gadjah Mada, yaitu Profesor Timbul Haryono selaku Guru Besar Ilmu Arkeologi dan Profesor Murdijati Gardjito selaku Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan serta ahli dari Universitas Indonesia yakni Profesor Saptawati Bardosono selaku Guru Besar Nutrisi dan Bondan Kanumoyoso dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, mengupas makna dari prasasti, penamaan yang tepat, dan gizi dan nutrisi dari makanan Abad VIII - X tersebut,” lanjutnya.

Pada acara Gastronosia, pemaparan tentang budaya makan dan makanan disampaikan oleh Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.

Dalam paparannya, Purbasari menggambarkan bagaimana perpaduan relief dan prasasti menunjukan keragaman bahan dasar makanan dan wujud makanan yang telah diadopsi dari masa ke masa.

Ia mencontohkan Prasasti Alasantan dan Relief Candi Borobudur menunjukan referensi yang dipakai dalam menentukan makanan yang direkonstruksi.

Adapun rekonstruksi makanan disampaikan oleh peramu makanan handal, yakni Sumartoyo.

Ia menyajikan makanan antara lain, Rumbah Hadangan Prana (Glinding Daging Kerbau), Knas Kyasan (Kicik Daging Rusa), Klaka Wagalan (Ikan Beong Masak Mangut), dan Harang-harang Kidang (Rusa Bakar). 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved