Kabupaten Sleman

Wajib Bawa Surat Rapid Antigen, RT di Kalasan Sleman Berlakukan Isolasi Mandiri 14 Hari bagi Pemudik

Semua pemudik di daerahnya wajib melakukan isolasi mandiri untuk mencegah penyebaran virus corona atau menjadikan area Bromonilan menjadi klaster baru

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Desa (Pemdes) setingkat RT atau RW diminta untuk memperhatikan para pemudik di waktu Idulfitri.

Hal ini terkait dengan pelarangan mudik yang sudah ditetapkan pemerintah pusat beberapa waktu lalu.

Diduga, meski sudah ada larangan, namun banyak masyarakat yang akan nekat untuk pulang ke kampung halaman meski pandemi masih terjadi.

Hal ini lantaran mudik merupakan kebiasaan warga untuk melepas kangen dengan keluarga di kampung yang mungkin tidak bisa digantikan dalam bentuk lain.

Ketua RT 08 RW 03 Bromonilan, Kalasan, Purwomartani, Ismanto meyakini tidak akan banyak pemudik yang kembali ke kampung saat Lebaran.

Baca juga: Klaster Takziah Merebak di Dua Padukuhan di Sleman, Akses Keluar dan Masuk Dijaga Ketat  

“Selama ini, masyarakat sudah paham. Biasanya, mereka tidak mudik kalau dilarang karena sampai rumah juga diwajibkan karantina mandiri,” ujarnya kepada Tribunjogja.com, Selasa (30/3/2021).

Menurutnya, jangka waktu isolasi yang mencapai 14 hari membuat pemudik malas kembali ke kampung lantaran membutuhkan waktu panjang.

“Selama isolasi, mereka tidak boleh ketemu dengan tetangga, setelahnya baru boleh. Jadi sepertinya di RT saya justru jarang mudik,” tuturnya.

Ditanya mengenai kewajiban membawa surat rapid tes antigen, Ismanto mengakui pihaknya tidak akan berpatokan pada hal itu saja.

Semua pemudik di daerahnya wajib melakukan isolasi mandiri untuk mencegah penyebaran virus corona atau menjadikan area Bromonilan menjadi klaster baru.

“Sama saja, mau bawa atau tidak bawa surat rapid tes antigen atau PCR, kami tetap mewajibkan pemudik untuk karantina. Surat itu tidak menjamin apakah dia bebas COVID-19 atau tidak, tapi kami terapkan isolasi mandiri,” paparnya.

Ia mengungkap, bagi warga yang ngeyel, akan ada sanksi tersendiri dan tentu saja akan ada rasa tidak enak dengan warga setempat.

“Semua info akan dipantau melalui grup WhatsApp. Sehingga, kami tidak mungkin tidak tahu,” tambahnya.

Baca juga: BREAKING NEWS : Warga yang Dinyatakan Positif dari Klaster Takziah di Plalangan Sleman Bertambah

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved