Setahun Dihantam Pandemi, Pembudidaya Ikan di Magelang Mulai Bangkit
Geliat usaha dan budidaya perikanan di sentra bibit ikan Ngrajek II, Mungkid, Kabupaten Magelang mulai kembali bangkit setelah sempat berhenti
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Geliat usaha dan budidaya perikanan di sentra bibit ikan Ngrajek II, Mungkid, Kabupaten Magelang mulai kembali bangkit setelah sempat berhenti total di awal pandemi Covid-19.
Perlahan-lahan, para pembudidaya mulai kebanjiran order beriringan dengan masa musim penghujan yang kerap dipakai untuk menebar bibit ikan air tawar.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Mitra Tirta Reksa, Arif Sodik mengatakan, di awal masa pandemi tahun lalu aktivitas jual beli dan pembudidayaan ikan di tempat itu sempat berhenti total.
Kondisi itu berlangsung selama kurang lebih setengah tahun hingga mulai pulih pada Desember tahun lalu.
Baca juga: Minat Pelaku Wisata Gunungkidul Ikut Vaksinasi Covid-19 Masih Rendah
"Sebenarnya kalau dibilang dampak ya sama dengan sektor lain, karena dengan pembatasan kan distribusi ikan jadi terhenti," jelas dia, Rabu (24/3/2021).
Arif menjelaskan, kelompok yang menaungi sekitar 14 pembudidaya ikan itu sempat bingung di awal pandemi. Ikan yang dibibitkan juga mulai bertambah besar dan banyak karena masa panen yang terus ditunda dan pembeli yang tak kunjung tiba.
Bahkan dengan banting harga pun, pembeli juga tidak mau membeli ikan.
"Tapi waktu mulai musim hujan kemarin pas November dan Desember itu perlahan-lahan sudah mulai bangkit lagi," imbuhnya.
Pada musim penghujan, para pembudidaya ikan tambak biasa memanfaatkannya untuk menebar bibit ikan.
Sebab di musim kemarau tingkat maupun kadar garam air cenderung tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk menebar bibit ikan.

"Kalau musim hujan seperti ini ya biasa kirim sebanyak dua sampai tiga kali seminggu dengan jumlah satu kali pengiriman itu biasa mencapai 100 ribu ekor," ungkapnya.
Kelompok pembudidaya itu menjual beragam jenis bibit ikan air tawar seperti Nila, Lele, Bawal, Patin, Koi, Gurame, dan lain sebagainya. Setiap ikan dijual secara berbeda baik ukuran maupun harganya.
Untuk Nila Rp80-100 per ekor, Patin biasa dijual seharga Rp 400-600 per ekor, Bawal Rp 350-500 per ekor, Gurame, Rp4-6 ribu per ekor, dan Lele senilai Rp 250-400 per ekor.
Usia ikan itu rata-rata sekitar satu setengah bulan hingga tiga bulanan saat akan dipanen.
"Untuk indukan saya kerja sama dengan teman dan dia punya sekitar tiga ribu indukan Nila Merah tapi itu kadang juga kurang dan saya beli larva nya juga dari tempat lain," jelasnya.
Bibit ikan itu biasa dijual keluar kota dan diperuntukkan bagi para kelompok tani atau pembudidaya ikan. Pasar mereka biasa menyasar di daerah Jogja, Solo, Klaten, hingga sejumlah kota lain di Jawa Tengah.
Masa pandemi juga membuat para pembudidaya ikan di daerah itu mulai beralih memasarkan bibit ikan melalui daring. Cara itu dinilai tepat di tengah pembatasan dan larangan aktivitas selama Covid-19.
Baca juga: Disperindag DIY Pastikan Persediaan dan Harga Bahan Pokok Tetap Terjaga Jelang Ramadhan
"Saya biasa sebagai grosir dan yang jual dan posting di sosial media biasa teman-teman di sini dan itu saya lihat cukup lumayan juga aktivitasnya," imbuh dia.
Pembudidaya ikan lainnya, Nur Septian mengaku hal serupa. Menurutnya pasar di daring biasanya di dominasi oleh para pembudidaya pemula dan hanya membeli bibit ikan dalam jumlah kecil.
"Biasa kalau yang sudah pemain gede dia langsung ke pembeli dan jarang main di online. Jadi di sistem daring ini gampang bahkan yang tidak punya ikan juga bisa jualan," katanya.
Meski berisiko dan ada kecurangan serta indikasi penipuan pada sistem penjualan daring, namun beberapa pembudidaya termasuk Nur mengaku hal itu tidak menjadi masalah.
Biasanya para pembeli dan penjual yang menipu langsung disebar identitas dan profilnya agar tidak melanjutkan aksinya dan diketahui oleh orang lain. (jsf)