Breaking News:

Kota Yogyakarta

Ratusan Pengunjung Malioboro Melanggar Aturan KTR Setiap Harinya

Selama ini, dalam melakukan penindakan terhadap pelanggar KTR Malioboro, Satpol PP berusaha mengedepankan langkah persuasif.

dailymail
Ilustrasi perokok 

TRIBUNJOGJA.COM - Jumlah pengunjung Malioboro yang kedapatan melanggar aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) setiap harinya masih sangat tinggi.

Hal itu, menjadi ironisme tersendiri karena KTR sudah ditetapkan sejak akhir 2020.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Ekwanto mengatakan, dalam satu hari, petugasnya di lapangan masih mendapati ratusan pengunjung yang merokok sembarangan di sepanjang kawasan Malioboro.

Menurutnya, selama ini, pihaknya mengalami kesulitan dalam mengendalikannya.

Baca juga: Sulit Terapkan Denda, Pemkot Yogya Siapkan Sanksi Sosial untuk Pelanggar KTR Malioboro

"Sekitar 200 sampai 300 pelanggaran per hari. Pengunjung Malioboro kan silih berganti, sangat sulit bagi kami ya, meski sudah dihalo-halo, lalu mengkomunikasikannya dengan PHRI dan ASITA untuk sosialisasi," ungkapnya, Rabu (24/3/2021).

Sementara Kasi Pembinaan Potensi Masyarakat Satpol PP Kota Yogyakarta, Suwarna menyampaikan, selama ini, dalam melakukan penindakan terhadap pelanggar KTR Malioboro, pihaknya berusaha mengedepankan langkah persuasif.

"Kita kedepankan pembinaan, sehingga yang kita lakukan adalah edukasi dan pembinaan. Termasuk di Malioboro itu ya, dari Abu Bakar Ali, sampai titik nol kilometer," ujarnya.

Walau begitu, Suwarna menegaskan, dengan menerapkan kebijakan persuasif tersebut, bukan berarti pihaknya masih setengah-setengah dalam menegakkan aturan.

Baca juga: Resmi Jadi KTR, Pengunjung Malioboro Tidak Bisa Lagi Merokok Sembarangan

Menurutnya, sejak awal ditetapkan sebagai KTR, Satpol PP berkomitmen penuh untuk menumbuhkan kesadaran pengunjung.

Apalagi, imbuhnya, berdasar data yang dimiliki, mayoritas pelanggar aturan KTR di Malioboro ialah para wisatawan dari luar kota, kemudian beberapa pedagang, atau pelaku wisata yang sehari-harinya memang mengais nafkah di sana.

"Makanya, kan tidak melulu harus berujung sanksi pidana, atau denda. Tapi, yang penting kita bisa menyadarkan, kalau mereka harus berperilaku sesuai dengan aturan, maupun ketentuan di Kota Yogyakarta," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved