Seniman Harus Terlibat Aktif Membangun Kota Magelang
Para pelaku seni dan budaya atau seniman di Kota Magelang harus terlibat aktif sebagai penentu arah pembangunan kota.
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, KOTA MAGELANG - Para pelaku seni dan budaya atau seniman di Kota Magelang harus terlibat aktif sebagai penentu arah pembangunan kota.
Hal ini ditegaskan Wali Kota Magelang, dr. Muchamad Nur Aziz dalam produksi ke-25 "Njo Thethek Njo", sebuah acara yang diinisiasi oleh Komunitas Pinggir Kali, di Pendopo Pengabdian Magelang.
Sebagai Wali Kota, dr Aziz menyatakan bahwa dialog ini merupakan awal yang baik baginya dan pemerintahan yang kini dinahkodainya untuk membangun semangat perubahan dan kesederajatan (egaliter).
Bahkan dirinya meneladani sikap kepemimpinan Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang memiliki sejarah erat dengan Kota Magelang.
Baca juga: Pemda DIY Tidak Lakukan Pemeriksaan di Perbatasan Wilayah Saat Libur Isra Miraj
Menurutnya, kisah penjebakan dan penangkapan Pangeran Diponegoro menunjukkan bahwa pemimpin Perang Jawa ini memiliki harga diri dan marwah seorang pemimpin besar.
Untuk diketahui, sebelum ditangkap Pangeran Diponegoro datang ke karesidenan dalam rangka memenuhi undangan.
"Dari situ kita dapat melihat bahwa Pangeran Diponegoro mempunyai nilai yang diturunkan kepada kita semua. Dan inilah yang akan saya bawa di Kota Magelang. Bahwa setiap orang itu mempunyai sebuah marwah, sebuah harga diri. Saya ingin Kota Magelang ini warganya punya harga diri, punya marwah, punya kebebasan dalam berpendapat. Pemimpin itu tidak selalu benar. Pemimpin harus siap dikritik dan siap dikoreksi," kata dr Aziz.
Terkait semangat perubahan dan kesederajatan, dr Aziz memastikan bahwa baliho-baliho yang dipasang Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang kini akan terlihat berbeda.
Dia tidak ingin fotonya terpasang sendirian, namun harus "nyawiji" (bersamaan) dengan para stakeholder seperti Forkopimda, Anggota DPRD, ASN, bahkan bersama elemen-elemen masyarakat lainnya.
"Itu menunjukkan ada pesan di sana, yaitu Wali Kota bukan penentu segalanya. Penentunya adalah masyarakat. Mau dibawa kemana Kota Magelang ini, ini tergantung mereka," tegas dr Aziz.
Lebih lanjut, ia mengajak para pelaku seni dan budaya untuk terus ikut membangun kota, dan tidak perlu segan untuk melontarkan ide kreatif.
Hal ini agar Kota Magelang tidak kehilangan kebanggaan dan deretan prestasinya. Bahkan prestasi ini akan terus pertahankan, dan ditingkatkan.
"Aset-aset budaya di Kota Magelang ini akan saya dorong. Saya tidak akan menutupi kelebihan-kelebihan dari warga Kota Magelang. Selanjutnya, kita akan sebarkan kepada seluruh masyarakat, bahwa Kota Magelang ini istimewa, karena saya ingin orang Kota Magelang bangga dengan kotanya," ujarnya.
dr Aziz juga menyampaikan beberapa rencana pengembangan seni dan budaya Kota Magelang ke depan yang akan dimasukkan ke dalam rencana kerja pemerintah daerah.
Salah satunya adalah keinginannya untuk merubah fungsi Taman Pancasila menjadi sebuah Theater Terbuka yang gratis untuk umum.
Baca juga: Belasan Kayu di Makam Tua Gunungkidul Dicuri, Keluarga Curiga Diambil Kolektor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/suasana-gelaran-njo-thethek-njo.jpg)