Terdampak Pandemi Covid-19, Angka Kemiskinan di Kota Yogyakarta Naik 0,4 Persen

Akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan, angka kemiskinan di Kota Yogyakarta meningkat 0,4 persen.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kota Yogya 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan, angka kemiskinan di Kota Yogyakarta meningkat 0,4 persen.

Ketergantungan pada sektor pariwisata, serta pendidikan, yang kini bisa dibilang 'mati suri', disebut memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian warga.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, angka kemiskinan yang tadinya berada di angka 6,8 persen, kini meningkat menjadi 7,25 persen.

Ia tak menampik, pada situasi pandemi Covid-19, banyak warga yang kehilangan mata pencaharian dan terhenti kegiatan ekonominya.

Baca juga: Percepatan Pemulihan Ekonomi, Pemda DIY Dorong UMKM untuk Manfaatkan KUR

"Karena sebagian besar warga Kota Yogyakarta kan berada dalam lingkungan industri pariwisata, atau yang berkaitan dengan zona pendidikan," katanya, Rabu (17/2/2021).

Menurutnya, sebelum diterpa pandemi, Yogyakarta sudah terbiasa dihidupi oleh industri pariwisata, ditambah sektor pendidikan, dengan melimpahnya jumlah universitas, serta mahasiswa yang datang setiap tahunnya.

Akan tetapi, dua lini tersebut harus terhenti karena corona merebak.

"Saat pandemi, dua-duanya tidak ada semua. Makanya, kita berupaya mendorong, agar bagaimana masyarakat itu bisa saling peduli, antara satu sama lain," jelas Heroe.

"Tapi, kalau kita melihat perkembangannya, daya tahan masyarakat, khususnya dalam hal memberikan kepedulian untuk kelompok miskin, saya rasa partisipasinya itu nilainya bisa miliaran rupiah yang berputar," tambahnya.

Ia pun berharap, slogan 'Jogja untuk Jogja' tidak berhenti menjadi kata-kata belaka, namun dapat diterapkan langsung dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Misalnya, dengan merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar, maupun berbelanja kebutuhan di warung lingkup terdekat.

"Tujuannya, untuk menunjukkan bahwa sumber daya yang ada di Yogyakarta bisa menghidupkan fungsi perekonomian. Saat ini, Pemkot sudah mencoba menghidupkan teman-teman di Gandeng Gendong untuk memenuhi kebutuhan warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah," tandasnya.

Kemudian, Dinas Pertanian kini berupaya menyusun sebuah pasar tani yang nantinya dapat menghubungkan kampung-kampung sayur di Kota Yogyakarta.

Baca juga: Bupati Klaten Sri Mulyani Serahkan Jabatan ke Plh Bupati Jaka Sawaldi

Sehingga, komoditas yang mereka hasilkan bisa dijual lewat e-Warong, yang memiliki segmen Program Keluarga Harapan (PKH).

"Dari situ, akan terwujud tempat yang bisa menjadi etalase untuk penjualan hasil pertanian bagi mereka. Dalam artian, transaksi online dan offline kita dorong," jelasnya

Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga berusaha mengendalikan beban masyarakat, termasuk dalam kebutuhan pulsa, atau paket internet.

Yakni, dengan menambah WiFi gratis yang dapat leluasa diakses oleh warga masyarakat.

Saat ini, imbuhnya, sudah lebih 300 router yang terpasang.

"Untuk memenuhi kebutuhan internet warga dan mengurangi beban pulsanya. Sekarang kita punya target wifi publik ini di setiap RW. Semoga bisa selesai tahun ini, atau paling tidak di triwulan ke tiga," pungkas Wakil Wali Kota. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved