Yogyakarta
Kembali Gelar Sapa Aruh, Sri Sultan HB X Ajak Masyarakat Meniru Kehidupan Nelayan dan Petani
Dalam Sapa Aruh , Sultan HB X menyemangati dan mengajak rakyatnya untuk beradaptasi di tengah situasi yang tak menentu ini.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yuwantoro Winduajie
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa warga atau aruh untuk menyampaikan pesan khusus kepada warganya.
Pekan lalu HB X, juga sempat menggelar sapa aruh mengenai kebijakan Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Pada sapa aruh bertajuk "Mengadaptasi Perubahan, Menggugah Semangat Bangkit-Ekonomi", Sultan HB X menyemangati dan mengajak rakyatnya untuk beradaptasi di tengah situasi yang tak menentu ini.
Dalam pidato singkatnya, HB X menyampaikan, hingga saat ini pandemi COVID-19 belum dapat dikendalikan.
Baca juga: Terbit Izin Vaksin Covid-19 untuk Lansia, Gubernur DIY Sri Sultan HB X Siap Berpartisipasi
Oleh sebab itu, masyarakat perlu melakukan adaptasi di tengah situasi krisis ini.
"Konon kata orang bijak, mahkluk yang mampu mempertahankan hidup bukan yang terbesar, terkuat atau terkaya. Tapi mereka yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan," terangnya di Bangsal Kepatihan pada Selasa (16/2/2021).
Masyarakat, lanjut HB X, bisa mengambil contoh dari kehidupan para nelayan dalam menghadapi gelombang besar di lautan.
Saat tejadi gelombang tinggi, nelayan tak memaksakan diri untuk melaut.
Mereka memahami, pasang-surut air laut akan menghantarkan oksigen untuk plankton di dasar laut yang membuat populasi ikan melimpah.
"Benar saja, saat badai reda, plankton tumbuh lebih subur, ikan-ikan berkembang biak. Lalu nelayan bisa kembali mendapatkan ikan dalam jumlah cukup. Para nelayan tidak pernah menghujat gelombang dan badai, tetapi mereka mengetahui kapan saat terbaik untuk istirahat," imbuh Raja Keraton itu.
Begitu pula dengan para petani.
Baca juga: Gubernur DIY Sarankan Modernisasi Konsep Among Tani
Mereka membiarkan lahan yang dimiliki beristirahat di luar musim tanam.
Lahan tak dipaksa untuk berproduksi sebab hal itu merupakan langkah sia-sia.
Perumpamaan itu serupa dengan para pelaku usaha yang terdampak pandemi COVID-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kembali-gelar-sapa-aruh-sri-sultan-hb-x-ajak-masyarakat-meniru-kehidupan-nelayan-dan-petani.jpg)