Breaking News:

Cuaca Ekstrem, Dua Wilayah di Kabupaten Magelang Dilaporkan Longsor

Cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan dengan intensitas sedang mengakibatkan dua titik di wilayah Kabupaten Magelang

Istimewa
Sejumlah warga dan personel BPBD Kabupaten Magelang membersihkan material tanah longsor yang sempat menutup akses jalan penghubung antar desa di Dusun Dawang, Desa Gondangrejo, Kecamatan Windusari, Senin (15/2/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan dengan intensitas sedang mengakibatkan dua titik di wilayah Kabupaten Magelang dilaporkan longsor pada Minggu (14/2/2021) kemarin.

Satu titik longsor di Dusun Dawang, Desa Gondangrejo, Kecamatan Windusari bahkan sampai menutup akses jalan penghubung antar desa.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto mengatakan, insiden tanah longsor itu terjadi di Dusun Dawang, Desa Gondangrejo, Kecamatan Windusari serta Dusun Sidomulyo Timur, Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan pada sore dan malam hari.

Baca juga: Sejumlah Hakim dan Pegawai Positif Covid-19, Pengadilan Negeri Yogyakarta Ditutup Sementara

Longsor yang di Dusun Dawang, Desa Gondangrejo, Kecamatan Windusari menyebabkan tebing setinggi empat meter dengan panjang 10 meter longsor sehingga menutup akses jalan penghubung Desa Banjarsari - Gondangrejo.

"Jalan itu merupakan jalan utama menuju Windusari saat ini karena jalan penghubung Desa Windusari – Gondangrejo terputus pada bulan Desember tahun 2020 lalu," ujarnya dikonfirmasi Senin (15/2/2021).

Edi menjelaskan, saat ini jalan penghubung itu telah kembali bisa diakses.

Para relawan dan petugas BPBD setempat telah membersihkan material tanah yang menutup jalan.

"Giat relawan dan personela BPBD sudah dilakukan dan jalan tersebut sudah kembali bisa dilalui warga," imbuhnya.

Baca juga: Pasca Polemik, Pihak Heha Ocean View Gunungkidul Disebut Mulai Lanjutkan Proses Perizinan

Sementara, longsor yang terjadi di Kecamatan Bandongan menyebabkan tebing setinggi 15 meter longsor membawa serta material rumpun bambu.

Pada awalnya irigasi tersebut hanya digunakan untuk irigasi desa dengan arus yang kecil.

Akan tetapi karena di hulu untuk jalur air diarahkan menjadi satu jalur irigasi, debit air menjadi bertambah dan semakin deras sehingga menggerus tanah dan terjadi longsor kecil.

"Selain itu terdapat dua rumah yang mengalami retak pada bagian dinding dan lantai rumah milik warga sekitar. Jarak rumah dengan tebing ± 50 meter," jelasnya. (jsf)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved