Breaking News:

Pengakuan SR Dukun Pijat Aborsi di Magelang, Belajar dari Internet dan Patok Harga Rp 7,2 Juta

SR (35) tersangka pelaku tindak pidana kekerasan terhadap anak atau aborsi yang ditangkap Polres Magelang mengaku mengetahui cara dan ramuan

TRIBUNJOGJA/ Yosef Leon Pinsker
Polisi menunjukkan sejumlah barang bukti dalam gelar perkara tindak pidana kekerasan terhadap anak atau aborsi, Kamis (11/2/2021). 

"Kemudian pada hari kelima yakni di 21 Desember 2020 sekira pukul 09.00 WIB pelaku SA juga diberi minuman ramuan racikan oleh pelaku SR, kemudian pelaku SA dipijat di bagian perut lalu air ketuban keluar setelah itu sekitar satu jam kemudian pelaku SA diberi minum ramuan racikkan lagi oleh pelaku SR dan dipijit kembali kemudian baru janinnya keluar," jelas Kasatreskrim Polres Magelang, AKP Hadi Handoko.

Atas jasa itu, SR mematok harga kepada kedua tersangka sebesar Rp 7,2 juta yang dibayar keduanya secara bertahap yakni Rp 4 juta saat awal akan melakukan aborsi dan disebut sebagai uang muka, kemudian pembayaran tahap dua senilai Rp 2,5 juta, kemudian pembayaran terakhir saat kandungan telah selesai digugurkan.

SR mengaku uang itu digunakannya untuk membayar utang.

Tradisi Khas dalam Perayaan Tahun Baru Imlek, Makna Dekorasi Warna Merah hingga Kebiasaa Bagi Angpao

Hadi menjelaskan, setelah janin keluar tersangka SR dan HY kemudian menguburkan janin itu di tempat pemakaman umum (TPU) di desa sekitar.

Polisi juga telah membongkar makam janin yang diperkirakan berusia sekitar tiga sampai empat bulan itu guna melakukan tes pencocokan DNA.

"Usia kandungan ketika kami mendapat informasi itu kami minta bantuan ke Polda Jateng. Kemudian saat digali, dokter mengatakan bahwa usia janin sekitar tiga atau empat bulan. Kami juga tengah melakukan pencocokan terhadap janin yang dikubur itu apa DNA-nya sesuai atau tidak dengan tersangka, hasilnya belum keluar semoga tidak ada kendala," jelasnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 80 ayat (3) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan atau denda paling banyak Rp 3 miliar. (jsf)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved