Pakar UGM Jelaskan Penyebab Kerusakan DAM Mergangsan Kota Yogyakarta

Kerusakan DAM Mergangsan di Kampung Surokarsan, Kecamatan Margangsan, Kota Yogyakarta turut disoroti oleh akademisi Universitas Gajah Mada (UGM).

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kerusakan DAM Mergangsan di Kampung Surokarsan, Kecamatan Margangsan, Kota Yogyakarta turut disoroti oleh akademisi Universitas Gajah Mada (UGM).

Pakar Struktur Bangunan Air UGM Prof Dr Ir Sunjoto Dip He DEA mengatakan, semua kerusakan bangunan air disebabkan karena hydro dinamica.

Ia pun menuturkan beberapa kemungkinan kerusakan yang terjadi pada DAM Mergangsan saat ini.

Salah satunya, penyebab retaknya DAM yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut dikarenakan terjadi piping atau pengikisan pada bagian bawah bendungan akibat perbedaan tekanan air.

Disdik Kota Yogyakarta: Penentuan Kelulusan Siswa Diserahkan Sepenuhnya Pada Sekolah

Sunjoto menjelaskan, teori dinamika air sendiri berdasarkan azas bernoulli mengatakan semakin tinggi kecepatan, maka tekanan yang dihasilkan semakin rendah.

"Artinya kalau kecepatan air tinggi, itu menyebabkan tekanan berkurang. Nah, ketika air itu gerojok (melintas) di bendungan maka tekanan rendah. Yang sering terjadi seperti itu," jelasnya, kepada Tribun Jogja, Jumat (5/2/2021).

Secara rinci Sunjoto menuturkan, akibat kecepatan air yang melintas di atas bendungan tinggi maka tekanan yang berada di sekitar DAM akan rendah.

"Karena tekanan rendah, maka butir-butir tanah yang ada di bawah bangunan akan terangkut satu persatu. Tapi kalau itu berlangsung terus menerus ya akan terkisis dan ambrol," imbuhnya.

Sebagai solusi, Sunjoto menegaskan bahwa pihak pelaksana untuk ke depan jangan sampai ketika membangun sebuah bangunan air tetapi bagian tanahnya terdapat lubang.

Karena setiap bangunan melintang, menurutnya dapat dipastikan akan ada bagian yang curam untuk jalur air dengan kecepatan tinggi.

"Di permukaan kecepatan tinggi, dan itu menyedot butiran tanah yang ada di bawahnya," tegasnya.

Penyebab dinamika air sendiri, lanjut Sunjoto, beberapa kasus yang ditemui berasal dari penambangan pasir yang berlebihan, penggundulan hutan, dan curah hujan yang tinggi.

Dari penyebab tersebut, Sunjoto tidak memungkiri jika saat ini banyak terjadi kerusakan bangunan air, salah satunya DAM Mergangsan.

Ia melanjutkan, solusi teknis untuk memperkecil kemungkinan terjadinya piping menurutnya ketika dilakukan pembangunan bendungan beserta DAM air, pelaksana harus mempertimbangkan cut off wall atau dinding halang sebaik mungkin.

"Cut off ini harus melindungi supaya tidak terjari gerusan tanah bagian bawah. Ngitungnya ya pakai rumus, kalau bangunan itu gede ya bisa dengan tes model," terangnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved