Bisnis

Asa Pedagang Pernak-pernik Candi di Masa Pandemi, Memilih Tetap Buka Meski Sepi Pengunjung

Kunjungan wisatawan yang anjlok juga berimbas pada sektor lain, termasuk kepada penjual pernak-pernik yang biasa mangkal di seputaran tempat wisata.

Tayang:
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Latifa saat membereskan dagangan pernak-pernik di tokonya yang berada di area Candi Pawon, Magelang, Rabu (3/2/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Dengan perlahan, Latifatul (25) terlihat berkemas di toko pernak-perniknya yang berada di sekitaran Candi Pawon di Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang Rabu (3/2/2021) pagi.

Jejeran patung dan pernak-pernik yang dipajang di toko itu ditatanya sedemikian rupa agar elok dipandang mata.

Matahari baru sedikit naik pagi itu, aktivitas di sekitar Candi Pawon juga belum terlalu sibuk.

Hanya lalu lalang masyarakat sekitar dan penghuni rumah di area itu yang tampak.

Tak satupun wisatawan yang tampak berkunjung.

Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tahu Bulat di Magelang Kurangi Ukuran dan Bobot Produknya

"Memang begini mas kondisinya kalau saat sekarang. Sudah sejak awal-awal pandemi wisatawan sepi berkunjung," kata Latifatul.

Candi Pawon memang kalah menarik dari Candi Borobudur atau Prambanan yang kerap menjadi tujuan nomor satu bagi para wisatawan.

Namun, menurut Latifa minat wisatawan khususnya luar negeri juga tak sedikit yang bervakansi ke tempat itu.

Namun pandemi mengubur semuanya.

Kunjungan wisatawan yang anjlok juga berimbas pada sektor lain, termasuk kepada penjual pernak-pernik yang biasa mangkal di seputaran tempat wisata itu.

Hampir setahun pandemi berlangsung, Latifa menyebut kondisi demikian lebih parah dibanding masa low season wisatawan.

Hanya saja, dirinya masih setia membuka toko meski kadang kala tidak ada satupun pengunjung yang singgah untuk menengok.

Bangkitkan Sektor Usaha, OJK Dorong Perbankan Lebih Banyak Salurkan KUR di 2021

"Kalau tutup juga ya repot. Ini tetap buka ya itung-itung biar sambil ada kegiatan dan ada kesibukan meski tidak ada yang beli," katanya.

Latifa menjual berbagai pernak-pernik candi di tokonya.

Mulai dari patung budha yang terbuat dari batu, yang dicetak maupun dipahat, lempengan logam kuno, berbagai topeng, wayang, kerajinan, dan aksesoris lainnya.

"Rentang harga mulai dari Rp75 ribu sampai jutaan," kata dia.

Beberapa produk yang dijual diperoleh dari berbagai daerah seperti Bali, Jawa Barat maupun Jawa Timur.

Hanya segelintir yang diperoleh dari Magelang.

"Dari Jogja juga ada beberapa. kalau yang dari Magelang ya patung-patung yang ukiran ada juga," imbuhnya.

Meski hasil dagangan tengah tersendat, namun ia mengaku masih belum beralih melakukan pemasaran secara daring.

Sempat Lesu Terimbas COVID-19, Usaha Kerajinan Bebek Akar Bambu di Klaten Kini Kembali Menggeliat

Menurutnya, ada kepuasaan tersendiri dari pelanggan saat melakukan transaksi secara tatap muka dan bisa memastikan detail produk yang diminati secara langsung.

"Pasarnya memang wisatawan luar negeri. Mereka lebih suka dengan barang dan pernak-pernik khas seperti ini. Kesannya lebih tradisional dan agak kuno," jelasnya.

Latifa menambahkan, biasanya penjual pernak-pernik seperti dirinya kerap ketiban untung saat masa-masa high season.

Masa itu biasa jatuh dua kali dalam setahun yakni pertengahan tahun hingga puncak di Agustus.

"Tapi sekarang ya sama saja semua. Paling yang sedikit membantu ya seperti wisatawan lokal yang memang penggemar dan kolektor, beberapa memang ada," ujarnya.

Matahari kian terik, Candi Pawon masih lengang. Latifa kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan debu yang menempel di pernak-pernik jualannya sambil setia menunggu wisatawan mampir. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved