Warga Bantaran Kali Code Yogyakarta Bersiap Hadapi Kemungkinan Bencana Banjir
Warga di bantaran Kali Code, Kotabaru, Kota Yogyakarta, masih khawatir akan potensi banjir yang dapat terjadi saat cuaca ekstrem.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Warga di bantaran Kali Code, Kotabaru, Kota Yogyakarta, masih khawatir akan potensi banjir yang dapat terjadi saat cuaca ekstrem.
Sejumlah langkah antisipasi pun dipersiapkan oleh warga setempat menghadapi kemungkinan bencana tersebut.
Warga Kampung Code RT 01/ RW 01, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Chandra, mengatakan, warga di bantaran Kali Code telah sadar resiko bencana, sehingga mereka sudah menyusun langkah antisipasi dan apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
Baca juga: Menpora Zainudin Amali Siap Turun Tangan Bantu PSSI Dapatkan Izin dari Kepolisian untuk Liga 1 2021
"Warga sudah tahu apa yang akan dilaksanakan nanti ketika akan terjadi banjir akan melakukan evakuasi. Caranya, kita langsung memberitahu warga dengan model kentongan, dikumpulkan warganya di balai serbaguna dan langsung dievakuasi ke atas," ujarnya saat ditemui, Selasa (2/2/2021).
Pria yang juga menjabat sekretaris RT 01 Kampung Code tersebut mengatakan, beberapa persiapan yang dilakukan.
Pertama adalah penyiapan jalur evakuasi. Kedua, setiap RT dibuat tim Taruna Tanggap Bencana (Tagana) yang terdiri dari 5-10 orang yang biasanya juga Linmas.
"Kalau banjir kita sudah ada jalur evakuasi. Untuk kita juga ada tim tagananya sendiri. Tiap-tiap RT ada. Tagana, sudah dibentuk tiap RT sudah ada. Pusatnya di kelurahan. Ada sub-sub cabang-cabangnya, tiap RT itu ada. Diketahui oleh Ketua RW masing-masing. Satu RT ada 5-10 orang, biasanya mereka juga linmas dan tagana," tuturnya.
Sarana prasarana juga dipastikan berfungsi dengan baik.
Talud yang semula hanya setinggi satu meter, telah lama diperbaiki dan ditinggikan sampai 2,5 meter lebih, sehingga dapat menampung debit aliran sungai.
"Kalau banjir, tak sampai meluap ke rumah warga. Itu di bawah talud, batas talud semua airnya. Ketinggian sekitar 1,5 meter. Dari pemerintah ini, dulunya tinggi talud ini cuma 1 meter dinaikkan lagi menjadi 2,5 meter. Efektif. Kalau dulu satu meter itu riskan karena pas 2010, airnya meluap yang selatan, sebelah barat, jadi jebol tanggulnya. Ini sekarang sudah dinaikkan sudah aman," tuturnya.
Mekanismenya, jika terjadi bencana, kentongan akan dibunyikan dan seluruh warga akan diberitahu kemungkinan terjadinya banjir.
Sebelumnya tim SAR yang berada di hulu akan memberitahu jika terjadi kenaikan debit sungai secara ekstrim.
Baca juga: BREAKING NEWS: Status Tanggap Darurat Bencana COVID-19 DIY Diperpanjang untuk Kali Kesembilan
Warga akan membawa barang berharga dan berkumpul ke balai serbaguna.
Dari sana, evakuasi dilakukan melalui jalur evakuasi.
Titik kumpul yang biasa digunakan adalah Museum Sandi Yogyakarta dan sebagian bengkel yang letaknya lebih aman.
"Nanti kita dievakuasi ke atas ke balai museum sandi berkumpul dari situ. Kita mengamankan barang-barang berharga dan langsung ke titik kumpul," tuturnya.
Warga juga meminta pemerintah memantau daerah-daerah rawan bencana sehingga warga merasa terlindungi.
"Pemerintah kalau bisa memantau daerah-daerah rawan bencana. Bukan mengharapkan bantuan atau sumbangan, cuma ya dipantau aja. Biar warga merasa terlindungi," tuturnya. (rfk)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/warga-di-bantaran-kali-code-kota-baru-kota-yogyakarta-menyiapkan-langkah-antisipasi.jpg)