Breaking News:

Sleman

Soal Perbaikan Kerusakan Jalan Gito Gati, Peneliti Pustral UGM: Gunakan Skema Tahun Jamak

Soal Perbaikan Kerusakan Jalan Gito Gati, Peneliti Pustral UGM: Gunakan Skema Tahun Jamak

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kondisi jalan rusak ditemukan di sepanjang Jalan Gito Gati, Sleman sejak bertahun-tahun belakangan. Meskipun sudah dilakukan penambalan pada beberapa pekan terakhir ini, masih terdapat sekitar 164 lubang di jalan tersebut.

Cuaca hujan yang masih sering terjadi, menambah kesulitan masyarakat yang harus melintasi jalan yang bersinggungan dengan Jalan Magelang itu.

Kejadian kecelakaan lalu lintas, sangat mungkin terjadi jika para pengendara tak ekstra berhati-hati.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) untuk Inovasi dan Teknologi Transportasi, Arif Wismadi menyampaikan, kerusakan jalan apakah berbentuk lobang (pothole) atau jenis kerusakan lain merupakan kondisi yang mengganggu aspek keselamatan dan aspek Biaya Operasi Kendaraan akibat kerusakan kendaraan yang ditimbulkan.

Menurutnya, kasus yang ditemui pada periode awal tahun umumnya terjadi karena sistem kontrak pemeliharan jalan yang sifatnya periodik, dengan pola kontrak kurang dari satu tahun. 

"Akibatnya, pada periode sebelum kontrak pemeliharaan dimulai banyak kerusakan yang tidak tertangani segera. Dalam musim hujan maka kondisi permukaan akan makin cepat rusak," bebernya kepada Tribunjogja.com, Senin (25/1/2021). 

Baca juga: Luncuran Lava Pijar Gunung Merapi ke Arah Barat Daya, BPBD DIY Minta Warga Tetap Siaga

Baca juga: Respon ARDY Soal Tanggapan Sri Sultan Hamengku Buwono X Tentang Pergub Nomor 1 Tahun 2021

Idealnya, menurut Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM ini, pemeliharaan jalan dilaksanakan dengan kontrak tahun jamak dan menggunakan skema berbasis kinerja (performance base contract) dengan ukuran kinerja jalan sebagai dasar pembayaran dan denda.

"Skema tersebut sesungguhnya bagus dan berpotensi membuka lapangan pekerjaan apabila melibatkan juga skema labour-based technology. Dengan skema berbasis kinerja, maka kondisi cek lapangan bisa bersifat harian," ungkapnya. 

Di samping itu, tandas Arif, apabila terdapat kerusakan terkecil dapat langsung ditangani sebelum membesar karena dilindas kendaraan yang lewat dan gerusan air. 

Skema tersebut, kata dia, akan baik jika masyarakat lokal dilibatkan.

"Di negara yang menerapkan skema ini pada setiap 1 km terdapat 1 orang pekerja lapangan yang bertugas untuk cek kondisi permukaan, mengatur aliran air agar tidak merusak dan pemeliharaan tanaman sepanjang jalan," tuturnya. 

"Di setiap 5 km terdapat 1 unit pemeliharaan dengan perlengkapan yang diperlukan untuk perbaikan dengan respons cepat. Apabila kerusakan terlalu besar untuk ditangani baru kemudian peralatan besar dari kontraktor bisa dimobilisasi," sambungnya. 

Opsi skema kontrak ini, lanjut Arif, mestinya dilihat sebagai pilihan cara yang baik, tidak hanya untuk menjaga kinerja jalan, namun juga mendistribusikan dan membuka lapangan pekerjaan, terlebih dalam masa COVID-19. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved