Kisah Inspiratif

Mahasiswa UNY Ciptakan Pakan Lele Alami dari Enceng Gondok dan Keong Sawah

Pelet yang dibuat mahasiswa UNY ini tidak mengandung bahan kimia pabrik yang dapat mengurangi kadar protein yang terkandung di dalam ikan lele.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Dinda Restu Nabila dan Faridatul Listiana sebagai peneliti dan pembuat pakan lele 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Budidaya lele menjadi satu dari beberapa jenis usaha yang banyak dikembangkan masyarakat.

Pada umumnya, pembudidaya lele saat ini bergantung pada pakan buatan pabrik berupa pelet yang dijual di pasaran. 

Pakan lele yang dibuat harus memiliki kandungan protein yang cukup agar dapat dimanfaatkan maksimal oleh tubuh ikan.

Tetapi, harga jual pelet ikan di pasaran masih cukup mahal.

Baca juga: Manfaatkan Barang Bekas, Lima Mahasiswa UNY Ciptakan Miniatur Lokomotif Bernilai Jual Tinggi

Hal ini pun membuat laba yang dihasilkan sedikit. 

Berangkat dari permasalahan ini, tiga mahasiswa dari Program Studi Pendidikan IPA Fakultas MIPA UNY, yaitu Dinda Restu Nabila, Siska Yulianti, dan Faridatul Liana membuat sebuah terobosan. 

Mereka meneliti pakan lele yang terbuat dari keong sawah dan enceng gondok.

Menurut Dinda Restu Nabila, eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan keong sawah (Pila ampullacea) memiliki kandungan protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan alami. 

“Tanaman eceng gondok mengandung bahan organik yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, yaitu 11,2 persen. Sedangkan kandungan protein keong sawah 15 persen," paparnya.

Penelitian mereka bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan pakan ikan lele dari campuran keong sawah dan enceng gondok menjadi pelet.

Selain itu, untuk mengetahui efektivitas pemberian pakan ikan lele berkadar protein paling banyak dari campuran keong sawah dan enceng gondok terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias sp).

Siska Yulianti menjelaskan, bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan lele tersebut adalah keong sawah, enceng gondok, dedak, tepung jagung, tepung pati, selenium, batu didih, H2SO4 0,1 N dan NaOH 40 persen. 

Baca juga: Mahasiswa UNY Teliti Penanggalan Jawa Pranata Mangsa sebagai Pedoman Bercocok Tanam

“Jagung dalam formulasi pakan diperbolehkan dengan kisaran 10-30 persen dari total seluruh bahan baku,” kata Siska. 

Kandungan utama tepung jagung adalah karbohidrat, protein (8-13,5 persen), gula, lemak, vitamin A dan vitamin B1, serta kaya akan serat. 

Penggunaan bahan perekat sangat menentukan kualitas pelet yang akan dihasilkan, karena bahan perekat dapat menjaga keutuhan komponen-komponen penyusun pakan serta dapat memperkuat ikatan penyusun pakan, sehingga pakan yang dihasilkan tidak mudah rapuh dan hancur. 

Bahan perekat digunakan untuk membuat pakan menjadi kompak, tidak cepat hancur saat dimasukkan kedalam air dan membuat pakan dapat tahan lebih lama di dalam air.

Beberapa bahan yang berfungsi sebagai perekat antara lain, agar-agar, gelatin, tepung kanji, terigu, dan tepung sagu. 

Siska menerangkan, cara pembuatan pakan lele cukup sederhana, langkah awalnya adalah merendam daging keong sawah dengan air garam selama 12 jam.

Lalu, giling bersama enceng gondok mulai dari akar, daun dengan blender sampai halus secara terpisah. 

Campurkan daging keong sawah, enceng gondok, tepung jagung, tepung pati, dan dedak sampai merata, bentuk menjadi bulatan-bulatan kecil sesuai dengan mulut lele.

Kemudian masukkan dalam oven dengan api kecil selama 10 menit.

Baca juga: Mahasiswa UNY Buat Inovasi Sosis dari Tempe dan Jamur Tiram, Mengandung Kadar Serat Lebih Tinggi

Faridatul Liana menambahkan, mereka membuat pakan lele tersebut dalam 3 konsentrasi, yaitu perbandingan enceng gondok dan keong sawah 1:1, 1:2, dan 2:1. 

“Untuk perbandingan 1:1 bahannya enceng gondok 150 gram, keong sawah 150 gram, dedak 50 gram, tepung jagung 50 gram, dan tepung kanji 25 gram,” ungkapnya. 

Sedangkan, untuk perbandingan 1:2 berbahan enceng gondok 75 gram, keong sawah 150 gram, dedak 50 gram, tepung jagung 50 gram dan tepung kanji 25 gram. 

Untuk perbandingan 2:1 berbahan enceng gondok 150 gram, keong sawah 75 gram, dedak 50 gram, tepung jagung 50 gram, dan tepung kanji 25 gram.

Penelitian menunjukkan, pemberian pelet enceng gondok dan keong sawah pada lele mengalami hasil yang baik.

Pada mulanya benih berumur 1 minggu  dengan panjang 0,13 meter dan berat 0,15 kg. 

Setelah 1 bulan pemberian pelet panjang lele bertambah 0,03 meter dan berat bertambah 0,04 kg.

Setelah 2 bulan panjangnya menjadi 0,28 meter dan berat 0,39 kg.

Baca juga: UNY Masih Kaji Rencana dan Skema Perkuliahan Tatap Muka

Berdasarkan pertumbuhan ikan lele, ikan tumbuh dan berkembang dengan baik setelah beradaptasi dengan lingkungan selama seminggu. 

Pelet dengan perbandingan enceng gondok : keong sawah 2:1 dapat menggantikan penggunaan pelet pabrik secara optimum dibandingkan dengan perbandingan 1:1 dan 1:2. 

Pelet yang dibuat mahasiswa UNY ini tidak mengandung bahan kimia pabrik yang dapat mengurangi kadar protein yang terkandung di dalam ikan lele.

Selain itu, bahan yang digunakan banyak terdapat di lingkungan sekitar, sehingga mudah untuk mencarinya. 

“Komposisi perbandingan pelet alternatif yang disarankan berdasarkan penelitian ini yaitu perbandingan enceng gondok:keong sawah sebesar 2:1 dengan komposisi bahan enceng gondok 150 gram dan daging keong 75 gram,” tambah Faridatul. ( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved