Pengungsi Gunung Merapi
Rindu Rumah, Ratusan Pengungsi Gunung Merapi Asal Desa Krinjing Kabupaten Magelang Pulang
Sedikitnya 121 warga Desa Krinjing Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang memutuskan untuk pulang ke desa asal dari barak
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sedikitnya 121 warga Desa Krinjing Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang memutuskan untuk pulang ke desa asal dari barak pengungsian yang berada di Desa Deyangan, Jumat (22/1/2021) sore.
Keputusan itu diambil setelah perangkat desa menilai bahwa kondisi aktivitas Gunung Merapi yang tidak terlalu signifikan dibandingkan akhir tahun lalu.
Warga diangkut dengan menggunakan sejumlah truk yang telah lebih dulu siaga di lokasi pengungsian.
Para pria dewasa, wanita dan anak-anak ditempatkan di truk tersebut.
Sementara bagi lansia, ibu hamil dan kaum difabel ditempatkan di mobil ambulans dan sejumlah mini bus.
Baca juga: AC MILAN: Menanti Detik-detik Kedatangan Fikayo Tomori dari Chelsea
Baca juga: 7 Obat Alami untuk Asam Lambung, Minim Efek Samping Bahan Juga Mudah Didapatkan di Rumah
"Warga masyarakat saya juga sudah minta pulang, karena sudah dua bulan setengah mengungsi. Ada yang merasa jenuh dan sudah rindu dengan tempat tinggalnya," kata Kepala Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Ismail saat ditemui di barak pengungsian Desa Deyangan.
Dia menjelaskan, tingkat aktivitas Gunung Merapi dari sisi kegempaan dan juga guguran lava juga bisa disebut tidak terlalu signifikan beberapa waktu terakhir.
Hal itu juga menjadi bahan pertimbangan bagi warga dan perangkat desa untuk memutuskan pulang dari barak pengungsian.
"Sehingga kami sudah ajukan izin ke BPBD dan langsung diteruskan ke Pak Bupati dan kami diizinkan," ujarnya.
Namun demikian, secara rekomendasi, pemerintah kabupaten setempat belum memperbolehkan warga desa untuk balik ke tempat asalnya.
Namun, karena mempertimbangkan faktor kemanusiaan, akhirnya pemerintah memberi izin.
Baca juga: Pengganti Komjen Listyo Sigit Sebagai Kabareskrim Diproses Lewat Wanjakti
Baca juga: Kronologi Ambulans Pembawa Pasien Positif Covid-19 Ditabrak di Perempatan Noja Denpasar
"Karena status tanggap darurat bencana Gunung Merapi kan belum habis. Tapi karena kemanusiaan kami diizinkan. Istilahnya ya istirahat di rumah. Dan itu dengan catatan bahwa kalau sewaktu-waktu Merapi meningkat dan statusnya berubah menjadi awas, warga kami siap balik lagi ke barak," kata dia.
Ismail menambahkan, 121 warga itu terdiri dari tiga dusun yakni Dusun Trayem, Pugeran, dan Dusun Trono yang berjarak sekitar kurang lebih lima kilometer dari Merapi.
Pihaknya juga bakal tetap siaga selama pulang ke desa asal. Tiap malam, warga akan ronda dan mengamati perkembangan Merapi.
"Jadi kami tetap ronda malam. Kalau sewaktu-waktu aktivitasnya meningkat kan ada yang tahu dan bisa membangunkan yang lain," katanya.
Pihaknya juga memanfaatkan radio komunikasi untuk melakukan koordinasi antar instansi dan antar desa.
Mobil siaga juga telah disiapkan untuk mengangkut warga jika ingin kembali lagi ke barak di masa darurat. (jsf)