Breaking News:

Pengungsi Gunung Merapi

Pengungsi Gunung Merapi Asal Desa Krinjing Pulang, BPBD Kabupaten Magelang Beri Info Mitigasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mengaku telah memberikan informasi yang lengkap

TRIBUNJOGJA/ Yosef Leon Pinsker
Sejumlah warga Desa Krinjing Kabupaten Magelang yang berada di barak pengungsian Desa Deyangan balik ke desa asal mereka, Jumat (22/1/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mengaku telah memberikan informasi yang lengkap dan komprehensif sebelum warga Desa Krinjing memutuskan untuk pulang ke desa asalnya.

Mereka disebut telah mengungsi di balai Desa Deyangan selama dua bulan lebih sejak status Merapi naik menjadi siaga pada 5 November silam.

"Kami pada dasarnya juga sudah memaparkan data ilmiahnya kepada mereka soal potensi arah ancaman yang berubah ke barat daya dengan sejauh 3 Km eksplosif dan 5 Km efusif melalui jalur sungai, makanya kami beri kesempatan kepada warga empat desa di sisi barat dan barat laut Merapi ini untuk sementara kembali ke rumah tapi mereka harus selalu siap-siap dan siaga apabila ada perubahan arah ancaman, karena Merapi itu berubah-ubah terus," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edi Susanto, Jumat (22/1/2021).

Baca juga: LIGA ITALIA: Peluang AC Milan & Inter Milan Raih Gelar Juara Paruh Musim

Baca juga: Tolak Perpanjangan PSTKM, PHRI DIY Akan Surati Gubernur, Bupati, Hingga Wali Kota di DI Yogyakarta

Edi menjelaskan, setelah warga dan perangkat desa tersebut mengetahui bahwa potensi ancaman Merapi telah berubah sesuai dengan rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) beberapa waktu lalu, mereka langsung mendiskusikan keputusan untuk balik ke desa asal bersama instansi terkait.

"Rekomendasi BPPTK itu memunculkan keinginan masyarakat untuk kembali, jadi kami undang mereka untuk diskusikan data aktivitas Merapi dan mereka  buat kesimpulan untuk balik ke desa asalnya," kata dia.

Namun demikian, pihaknya bersama warga desa juga telah membuat kesepakatan jika sewaktu-waktu Merapi menunjukkan aktivitas yang meningkat.

Sebab, selama ini aktivitas Merapi cenderung menunjukkan kondisi yang kerap berubah-ubah.

"Jenis erupsinya kan juga berbeda-beda terus, dari eksplosif ke efusif kemudian ke kripto eksplosif baru lagi ke efusif dan mereka juga sepakat untuk siaga di desanya masing-masing," tambah dia.

Baca juga: PSTKM Diperpanjang, Pedagang Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta Minta Relaksasi Retribusi dan Listrik

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kulon Progo: Tambah 33 Kasus Baru Hari Ini

Meski kabupaten Magelang memperpanjang status tanggap darurat bencana Merapi hingga 14 Februari mendatang, namun menurut Edi kembalinya sejumlah pengungsi itu ke desa asalnya tidak berkaitan langsung dengan perpanjangan tersebut.

Sebab, status tanggap darurat bencana hanya pernyataan bahwa ada ancaman di sejumlah pemukiman dan masyarakat di lokasi yang telah ditentukan.

"Status tanggap darurat itu tidak berhubungan dengan pengungsi Merapi. Mereka minta ya pemerintah memfasilitasi. Jadi istilah yang paling tepat ya mereka masih berada di pengungsian tapi di titik kumpul desa masing-masing, prinsipnya begitu, ujarnya.

Sampai saat ini 328 orang pengungsi diperkirakan masih bertahan dan tersebar di sejumlah barak pengungsian.

"Awalnya kan ada 449 pengungsi di semua wilayah dan dikurangi dari warga Desa Krinjing maka tinggal sekitar 328 yang masih bertahan," pungkasnya. (jsf)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved