Yogyakarta
Epidemiolog UGM : PSBB Jawa Bali Harus Diikuti Disiplin Masyarakat Jalankan 3M
Epidemiolog UGM : PSBB Jawa Bali Harus Diikuti Pendisiplinan Masyarakat Jalankan 3 M
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA - Epidemiolog UGM, Bayu Satria Wiratama menilai kebijakan pemerintah pusat yang memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jawa dan Bali mulai 11-25 Januari mendatang harus diikuti peningkatan kedisiplinan masyarakat dalam melaksanakan 3M.
Dikutip Tribunjogja.com dari ugm.ac.id, menurut Bayu, pemerintah memang sudah selayaknya mengambil kebijakan PSBB di Pulau Jawa dan Bali karena memang kasus aktif covid-19 di Indonesia cukup tinggi.
Selain itu tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau fasilitas kesehatan cukup tinggi.
“Faktor utamanya adalah mobilitas warga saat libur akhir tahun kemarin ditambah banyak daerah tidak berhasil melakukan penanganan Covid-19 sehingga kasusnya menjadi naik dan dikhawatirkan jika tidak direm maka keterisian RS akan mendekati 100 persen dan ini akan semakin menyusahkan masyarakat yang membutuhkan perawatan di RS dan naiknya angka kematian," ujarnya, Kamis (7/1/2021) seperti yang dikutip Tribunjogja.com dari ugm.ac.id.
Baca juga: Airlangga Hartarto : Bukan PSBB, Tapi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Jawa dan Bali
Untuk menekan tingginya angka penularan, kata Bayu, selain melakukan PSBB ketat sebaiknya ditingkatkan kemampuan tracing daerah yaitu kemampuan melakukan tes karena salah satu sumber untuk pengetesan adalah hasil contact tracing dari kasus.
Dari upaya ini maka dapat dilihat apakah daerah sudah memenuhi standar WHO untuk minimum pengetesan yaitu 1 tes setiap 1.000 orang per minggu dan positivity rate di bawah 5 persen.
Selain itu, tanpa jemu-jemu untuk terus meningkatkan kedisiplinan masyarakat akan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Upaya semacam ini perlu didukung pemerintah dengan cara memberikan edukasi dan contoh.
“Jangan masyarakat disuruh-suruh 3M dan tidak liburan keluar daerah, tetapi para pejabatnya tidak taat memakai masker atau bahkan liburan kemana mana," paparnya. (Tribunjogja)