Potensi Erupsi Gunung Merapi
Repeater Milik Komunitas Siaga Merapi Rusak, Komunikasi Lewat HT Terhenti
Repeater atau radio pemancar ulang milik Komunitas Siaga Merapi (KSM) rusak. Akibatnya komunikasi melalui Handy Talkie (HT) tidak berjalan.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Repeater atau radio pemancar ulang milik Komunitas Siaga Merapi (KSM) rusak.
Akibatnya komunikasi melalui Handie Talkie (HT) tidak berjalan.
Ketua KSM, Rambat Wahyudi mengatakan repeater tersebut rusak akibat tersambar petir pada Jumat (11/12/2020), sehingga repeater hancur dan tidak bisa digunakan lagi.
Repeater kata dia, sangat penting bagi KSM, terutama untuk komunikasi.
Beberapa daerah, salah satunya di Balai Desa Glagaharjo tidak terjangkau sinyal.
Baca juga: Jogja Smart Province di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta Ditargetkan Selesai 2023
Baca juga: UPDATE Covid-19 Kulon Progo : Tambahan 8 Kasus Baru Hari Ini, Berikut Rinciannya
Meskipun sudah ada WiFi, tetapi sangat terbatas.
"Repeater KSM digunakan untuk memantau Merapi dan koordinasi barak. Sangat penting untuk komunikasi. Selama ini dalam komunikasi pakai HT, baik untuk evakusasi dan lain-lain. Tetapi saat ini komunikasi terhenti total," katanya, Minggu (13/12/2020).
Ia berharap ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga komunikasi para relawan Merapi bisa lancar kembali.
Pihaknya sudah melaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman.
"Dulu kami buat sekitar Rp 12 juta, kami gunakan kas dan iuran warga. Tetapi saat ini infonya harganya Rp 18 juta, kas kami tidak banyak, sehingga tidak bisa melakukan pengadaan lagi," ujarnya.
Baca juga: UPDATE Perolehan Suara Pilkada Klaten Versi Sirekap KPU, MULYO Memimpin Perolehan Suara
Baca juga: Pencapaian Aset Bank BPD DIY Pada November Capai Rp 15 Triliun
Terpisah, Kasi Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sleman, Djokolelana menjelaskan ada bantuan CSR dari salah satu perusahaan berupa repeater.
Bantuan tersebut bisa dimanfaatkan oleh relawan di Balai Desa Glagaharjo.
Namun jika repeater tersebut tidak cocok atau tidak bisa digunakan oleh relawan, maka BPBD Sleman bisa melakukan pengadaan repeater menggunakan BTT.
Hanya saja, pengadaan harus segera disampaikan.
"Bisa saja (pengadaan menggunakan BTT), tetapi kan BTT hanya sampai tanggal 30 Desember. Jadi ya harus secepatnya," jelasnya.
Ia menambahkan BTT yang disiapkan untuk menghadapi kedaruratan adalah Rp 57,68 Miliar. Hingga saat ini dana yang sudah terealisasi sekitar Rp 6 Miliar. (maw)