Jogja Smart Province di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta Ditargetkan Selesai 2023

Direktur eCampuz PT Solusi Kampus Indonesia sekaligus Senior Konsultan Gamatechno, Nanang Ruswianto ST MKom menjelaskan kawasan tersebut

IST
Direktur eCampuz PT Solusi Kampus Indonesia sekaligus Senior Konsultan Gamatechno, Nanang Ruswianto ST MKom 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kawasan sumbu filosofi DIY merupakan area pilot project penerapan Jogja Smart Province.

Anggota Tim Jogja Smart Province sekaligus COO eCampuz, Nanang Ruswianto ST MKom menjelaskan kawasan tersebut dibagi menjadi 4 segmen terkait pembangunan Jogja Smart Province.

Segmen pertama, dari Krapyak Plengkung Gading mengambil filosofi tentang asal-usul manusia.

“Bentuk intervensinya berupa pembelajaran. Mesin layanannya untuk penyebaran informasi, jadi masyarakat akan dikenalkan tentang asal-usul manusia, juga filosofi kebudayaan Jogja,” ujarnya kepada Tribun Jogja.

Nanang menerangkan, melalui aplikasi Jogja Istimewa masyarakat yang sedang berkunjung ke sana juga bisa dikenalkan promosi-promosi kebudayaan Yogya dan mempelajari filosofinya lewat teknologi augmented reality.

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kulon Progo : Tambahan 8 Kasus Baru Hari Ini, Berikut Rinciannya

Baca juga: UPDATE Perolehan Suara Pilkada Klaten Versi Sirekap KPU, MULYO Memimpin Perolehan Suara

“Bisa memunculkan 3 dimensi, misalnya pasukan bregodho, bisa selfie juga dengan augmented reality itu, ada musik, dan ada yang menceritakan,” imbuhnya.

Segmen kedua, yakni Keraton Yogyakarta memiliki bentuk intervensi berupa pembelajaran dan pemeliharaan pengembangan budaya.

Manifestasi teknologi di wilayah ini pun hampir sama, dengan augmented reality akan dijelaskan objek sejarah, vegetasi-vegetasi khusus, sehingga terlihat penjelasan dan maknanya.

Berikutnya, segmen Jalan Margo Mulyo Malioboro merupakan wilayah yang paling lengkap. Sebab, di sini terdapat aktivitas perdagangan, ekonomi, pemerintahan, dan layanan publik.

Adapun teknologi di wilayah ini diwujudkan dalam beberapa hal, semisal e-payment dan service delivery.

“Ke depannya signage toko-toko di Malioboro akan dirapikan. PKL (pedagang kaki lima) akan didorong untuk bisa melayani transaksi elektronik. Selain itu, pengunjung juga bisa mengidentifikasi tempat parkir yang kosong secara online,” bebernya.

Baca juga: Pencapaian Aset Bank BPD DIY Pada November Capai Rp 15 Triliun

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta : Tambahan 151 Kasus Baru Hari Ini

Terakhir, yaitu segmen Jalan Margo Utomo yang memiliki bentuk intervensi berupa pembelajaran dan perdagangan.

Di sini pun terdapat beberapa titik bersejarah dan vegetasi-vegetasi khusus yang memiliki nilai filosofi.

Implementasi teknologi yang dibangun pun sama berupa informasi berbasis augmented reality tentang cagar budaya maupun vegetasi yang ada.

“Di sini juga akan ada CCTV untuk memantau titik rawan demonstrasi. Selain itu misalnya ada wisatawan yang ke Golong Gilig bisa melihat ceritanya di HP dalam berbagai bahasa,” tandasnya.

Menurut Nanang, saat ini pembangunan di lokasi sumbu filosofi baru berjalan sebagian.

“Rencana aksinya dari 2019 sampai 2023, diharapkan 2023 sudah terbangun 100 persen,” ucapnya. (uti)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved