Analisis Pakar Epidemiologi UGM Meningkatnya Kasus Covid-19 di Yogyakarta

Penambahan kasus harian positif Covid-19 dalam dua pekan terakhir di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com | Hasan Sakri
KARYA PATUNG LAWAN COVID. Sebuah karya patung bertema lawan covid-19 dipajang di komplek kampus ISI Yogyakarta, Rabu (2/12/2020). Patung yang menggambarkan tokoh sosok Bung Karno mengenakan masker dan mengetapel batu berbentuk virus Covid-19 untuk kembali mengingatkan kembali masyarakat untuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran covid-19. 

TRIBUNJOGJA.COM Yogyakarta -- Penambahan kasus harian positif Covid-19 dalam dua pekan terakhir di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Bahkan catatan pada pada Kamis 3 Desember 2020 penambahan kasus positif Covid-19 Yogyakarta terkonfirmasi sebanyak 189 orang.

Apa kata pakar epidemiologi?

Pakar Epidemiologi UGM, dr Riris Andono Ahmad menuturkan, hal itu terjadi karena mobilitas masyarakat saat ini sudah sama padatnya seperti sebelum terjadi pandemi.

Dr Riris Andono Ahmad MPH PhD
Dr Riris Andono Ahmad MPH PhD (facebook)

Berbeda dengan masa-masa awal pandemi yang mana banyak dilakukan pembatasan interaksi.

"Ya karena coba lihat di jalanan kira-kira sama enggak dengan awal pandemi? Sekarang sama padatnya dengan sebelum pandemi terjadi. Ya itu."

"Juga kemudian pariwisata dibuka, intinya mobilitas kita kembali seperti sebelum pandemi," ujarnya saat dihubungi Tribunjogja.com (Kamis, 3/12/2020).

Doni -sapaan dr Riris Andono Ahmad- melanjutkan, imbauan berupa penerapan protokol kesehatan saja ternyata tidak cukup di masyarakat.

Terbukti saat ini kasus Covid-19 terus meningkat.

"Orang kan selalu bilang kita sudah menerapkan protokol kesehatan, ternyata protokol kesehatan saja tidak cukup, ketika mobilitas masih tinggi. Jadi kalau mau mengendalikan harus mobilitasnya diturunkan," bebernya.

"Kalau awal-awal pandemi kan kita bisa membuat orang di rumah, harusnya (sekarang juga) bisa dilakukan."

"Tapi apakah ada aturan seperti itu dari pemerintah sekarang? Kan tidak. Imbauannya sekarang ini hanya patuh protokol kesehatan," sambung pengajar di FK-KMK UGM ini.

Menurut Doni, diperlukan waktu 3-4 minggu pembatasan sosial secara luas untuk bisa mereduksi angka kasus Covid-19.

"Sebenarnya perlu dihentikan antara 3 sampai 4 minggu untuk bisa mereduksi. Tapi semacam physical distancing yang luas."

"Itu yang perlu dilakukan. Tapi kan nyatanya tidak, pemerintah fokusnya hanya protokol protokol protokol (kesehatan), tapi kerumunannya tidak dihilangkan," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved