Letusan Merapi 1994

Letusan Merapi 22 November 1994 Terjang Turgo, Panut Berlari Mendaki ke Pos Plawangan

Gunung Merapi meletus 22 November 1994. Hari ini, 22 November 2020, tepat 26 tahun setelah peristiwa itu

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
DOK | DEDI H PURWADI
Letusan Merapi, Selasa 22 November 1994 diabadikan dari Pos Plawangan, Kaliurang, Sleman (DOK | DEDI H PURWADI) 

Tak lama kemudian, muncul Dedi H Purwadi, fotografer Harian Bernas. Di Pos Plawangan akhirnya ada 5 orang yang menyaksikan momen-momen mendebarkan saat awan panas Merapi meluncur tak henti-henti ke arah barat daya.

Dari kiri ke kanan: Suramto, Sunarto, Panut dan Sugiyoto, berlatar Merapi yang terus mengeluarkan awan panas, beberapa menit sebelum meninggalkan Pos Plawangan. Momen ini menandai peristiwa bersejarah penutupan pos selama-lamanya sejak 22 November 1994
Letusan Merapi, Selasa 22 November 1994 diabadikan dari Pos Plawangan, Kaliurang, Sleman (DOK | DEDI H PURWADI)

Telepon di pos berdering. Panggilan datang dari pejabat di Pusat Vulkanologi di Bandung. Menurut Panut, semua petugas di Pos Plawangan diminta agar segera turun ke Kaliurang jika situasi dipandang tidak aman.

“Kami mengatakan, tetap di pos, karena tahu di puncak ada Pak Sukhyar, Bu Sri, Bu Dewi dan beberapa petugas dari Yogya,” kata Panut.

Di hari letusan itu, tim Bandung dan Seksi Penyelidikan Merapi ternyata mendaki ke puncak. Survei dan pengamatan visual.

Dr Sukhyar kelak jadi Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, yang membawahkan Pusat Vulkanologi di Bandung.

Panut, Giyoto, Sunarto, dan Suramto, akhirnya mengemasi peralatan dan sejumlah perangkat penting. Menjelang pukul 15.00 WIB, mereka akhirnya memutuskan turun.

Fotografer Harian Bernas Dedi H Purwadi berada di antara mereka, dan ikut turun bersama-sama menuju Kaliurang. Gemuruh dari puncak Merapi masih terdengar.

Luncuran awan panas juga terus terjadi susul menyusul. Menurut Panut, kekuatan dan jarak luncurnya terus berkurang.

Puluhan Orang Tewas Bergelimpangan

Di seberang Kali Boyong, tepatnya di Dusun Turgo, petaka mengerikan terjadi. Puluhan orang bergelimpangan tewas.

Korban paling banyak ditemukan di rumah seorang warga yang saat itu menggelar hajat pernikahan Marijo dan Wantini. Permukiman di Dusun Tritis, Ngandong, Turgo, dan Tegal, porakporanda.

Turunnya ke-4 petugas Pos Plawangan itu menandai babak bersejarah pengamatan Merapi. Po situ ditutup selama-lamanya atas pertimbangan risiko keamanan.

Pengamatan kemudian dilakukan dari Kaliurang hingga sekarang.(Tribunjogja.com/Setya Krisna Sumarga)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved