Letusan Merapi 1994
Letusan Merapi 22 November 1994 Terjang Turgo, Panut Berlari Mendaki ke Pos Plawangan
Gunung Merapi meletus 22 November 1994. Hari ini, 22 November 2020, tepat 26 tahun setelah peristiwa itu
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Berlari ia mendaki jalan setapak, tak menghiraukan keselamatan dirinya. Di benaknya, ia hanya berpikir harus cepat sampai Pos Plawangan.
Baca juga: Mengenal 74 Stasiun Pemantauan dengan 147 Sensor yang Menjaga Gunung Merapi
Suara gemuruh semakin keras terdengar. Napas Panut tersengal-sengal saat pendakian kilat itu. Ketika meniti tanjakan di sisi timur Kali Boyong, Panut menoleh ke alur sungai.
“Gelombang awan panas sudah membanjiri sungai. Di sisi barat melambung menabrak bukit Turgo,” jelasnya. Panut tak berhenti. Ia terus berlari menuju Pos Plawangan.
“Awan panas itu paling besar yang pernah saya lihat. Bergulung-gulung dari lereng, menyusuri Kali Boyong. Hari berikutnya saya baru tahu jarak luncurannya mencapai 6,5 kilometer,” ujar kakek 7 cucu ini.
“Ujung luncuran awan panas sampai di sebelah barat Museum Ullen Sentalu sekarang,” imbuh Panut yang alumni Sekolah Teknik Negeri 4 Pakem (setara SMP).
Ketika ia akhirnya mencapai Pos Plawangan, Sugiyoto juga baru saja kembali dari arah Tlogo Putri. Rupanya ketika luncuran awan panas terbesar terjadi, Giyoto, panggilan akrab Sugiyoto, berusaha menyelamatkan diri turun ke Kaliurang lewat jalur Tlogo Putri.
Tapi akhirnya ia batal turun begitu ingat, sebelumnya menelepon Panut. Ia berpikir pasti sejawatnya itu akan menyusul jika terjadi letusan.
Keduanya akhirnya bersalaman di Pos Plawangan, saling berucap syukur dalam kondisi selamat. Menurut Panut, kondisi Pos Plawangan relatif utuh. Hanya terpapar abu vulkanik cukup tebal. Sebagian bercampur pasir panas.
“Saya tidak merasakan ternyata tengkuk saya terkena pasir panas. Beberapa hari kemudian luka seperti terkena herpes,” kenang Panut yang dilahirkan di Kaliurang, 5 Oktober 1953. Ia memulai sekolah di SD Kaliurang I, satu-satunya sekolah yang ada di kawasan Kaliurang kala itu.
Saksi Hidup Letusan Gunung Merapi
Panut dan Giyoto jadi saksi hidup menit-menit letusan besar Merapi 22 November 1994. Letusan pertama luncuran awan panas sejauh kira-kira 3 kilometer.
Letusan kedua sekira 4 kilometer. Letusan ketiga paling besar. Jarak luncur awan panas mencapai 6,5 kilometer.
Peristiwa yang dimulai pukul 10.15 WIB itu tercatat menewaskan sekira 68 orang, menghanguskan permukiman penduduk di Dusun Turgo dan sebagian area Kaliurang Barat.
Setelah tiba di Pos Plawangan, Panut dan Giyoto berbagi tugas. Giyoto mencatat luncuran awan panas dan mengamati visual lain.
Panut naik ke loteng pos, memotret rangkaian letusan dan luncuran awan panas Merapi. Sekitar pukul 12.00 WIB, dua petugas lain muncul hampir bersamaan.

Mereka terdiri atas Suramto dan Sunarto. Keempatnya segera berbagi tugas. Ada yang mencatat, mendokumentasikan, serta mengemasi sejumlah perangkat jika sewaktu-waktu harus meninggalkan pos tersebut.