Status Siaga Gunung Merapi

Persiapan Banjir Lahar Dingin, BPBD Sleman Sosialisasi ke Warga

Ada beberapa dusun yang terdampak jika terjadi banjir lahar dingin, seperti Argomulyo, Sindumartani, Bimomartani, dan Selomartani. 

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM.SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman melakukan sosialisasi kepada warga yang dilewati oleh Kali Gendol.

Tujuannya adalah agar masyarakat lebih waspada, terutama akan bahaya banjir lahar dingin

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Djokolelono mengatakan potensi banjir lahar dingin masih ada, namun tidak sebesar tahun 2010.

Namun demikian hal itu ditentukan dengan banyaknya material yang tertumpuk di Merapi. Selain itu tingginya curah hujan juga memengaruhi terjadinya  banjir lahar dingin.

"Kami sudah lakukan sosialisasi kepada warga, terutama di Kali Gendol. Karena saat ini arahnya (bukaan kawah) ke sana. Sehingga kami harapkan warga yang dilewati Kali Gendol sudah siap, jika terjadi banjir lahar,"katanya, Minggu (15/11/2020).

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Mulai dari Kulon Progo, Bantul, Sleman dan Gunungkidul

"Beberapa kali kami lakukan pemantauan, saat atas (Merapi) hujan deras, airnya tidak sampai bawah. Karena saat ini belum ada tumpukan material di puncak, cuma sisa-sisa material 2010,"sambungnya.

Pihaknya juga memastikan early warning system (EWS) berfungsi dengan baik.

Rangkaian perbaikan sudah dilakukan sejak lama, perawatan pun rutin dilakukan.

Setidaknya ada 37 EWS yang dimiliki Kabupaten Sleman, baik EWS lahar dingin, awan panas, maupun tanah longsor. 

Alat peringatan dini tersebut berfungsi untuk memberi peringatan kepada masyarakat jika terjadi banjir.

Jika terjadi banjir, alat tersebut akan berbunyi.

Dengan begitu masyarakat dapat langsung mengevakuasi diri ke barak pengungsian.

Ada beberapa barak yang sudah disiapkan, dua diantaranya di Sindumartani. 

"Kami juga sudah sampaikan terkait EWS, jadi masyarakat sudah paham, kalau EWS bunyi, berarti harus segera mengungsi. Paling tidak bunyi EWS itu sekitar 30 menit sebelum air datang. Sehingga masyrakat bisa siap-siap,"ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved