Status Merapi Siaga, BPPTKG Yogyakarta Jelaskan Dua Kemungkinan Skenario Erupsi Gunung Merapi

Berdasarkan pemantauan BPPTKG Yogyakarta, intensitas kegempaan di Gunung Merapi meningkat secara intensif.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Puncak Merapi dari Pos Babadan 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memberikan prediksi terkait skenario erupsi Gunung Merapi.

Hingga Rabu (11/11/2020) hari ini, berdasarkan pemantauan BPPTKG Yogyakarta, intensitas kegempaan di Gunung Merapi meningkat secara intensif.

Suara guguran pun terdengar semakin sering dari pos-pos pengamatan Gunung Merapi (PGM).

Gempa vulkanik dangkal pun dapat terasa di Pasar Bubar.

Baca juga: Basarnas Yogyakarta Siagakan 1 Tim Rescue dan Alat Utama Penyelamatan Warga Merapi

Baca juga: BREAKING NEWS : Antisipasi Abu Merapi, Stupa dan Lantai Candi Borobudur Ditudungi Penutup

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, dari data drone 3 November 2020 diperoleh gambaran bahwa tidak teramati adanya material baru di sektor utara, timur, dan selatan Gunung Merapi.

Sedangkan, di sektor barat data tidak dapat diolah dikarenakan kondisi Merapi pada saat itu berasap tebal.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkan seismisitas Gunung Merapi saat ini telah melampaui menjelang munculnya kubah lava 2006.

Namun, kondisi tersebut dikatakan masih lebih rendah daripada kondisi menjelang erupsi Gunung Merpai di tahun 2010.

“Kondisi saat ini per 11 November 2020 pukul 15.00 WIB, rata tiga hari, gempa VA 0, VB 33, MP 341, LF 2, dan RF 45. Deformasi teramati dari EDM Babadan 12cm/hari,” ujar Hanik dalam konferensi pers kondisi terkini Siaga Merapi, Rabu (11/11/2020).

Visual Gunung Merapi saat dilihat dari Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Minggu (8/11/2020).
Visual Gunung Merapi saat dilihat dari Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Minggu (8/11/2020). (TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan)

Hanik menyebutkan, ancaman bahaya maksimal yang dapat terjadi ialah ketika laju ekstrusi meningkat mencapai 100.000 m3/hari dan kubah lava memenuhi kawah mencapai volume 10 juta m3.

Ia melanjutkan, jika 50 persen dari kubah lava tersebut runtuh, maka akan menghasilkan awan panas ke Kali Gendol sejauh 9 km, Kali Opak 6 km, dan Kali Woro 6 km.

“Saat ini arah guguran lava dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol dengan jarak maksimal 3 km di Kali Lamat,” ungkap Hanik.

Hanik menerangkan lava adalah magma yang berada di permukaan.

Adapun guguran lava yang semakin sering terjadi beberapa hari terakhir merupakan guguran dari sisa-sisa lava atau material lama, semisal hasil erupsi 1948 dan 1988.

Menurut Hanik, indikator data pemantauan Gunung Merapi telah melampaui kondisi siaga 2006, sehingga BPPTKG memiliki kemungkinan dua skenario, yaitu skenario ekstrusi magma dengan cepat dan skenario erupsi eksplosif.

“Keduanya berimplikasi estimasi waktu jeda yang pendek sampai dengan kejadian erupsi yang membahayakan penduduk. Saat ini data pemantauan baik seismik maupun deformasi terus meningkat menunjukkan dekatnya waktu erupsi,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jika terjadi erupsi eksplosif, kemungkinan tidak sebesar erupsi 2010.

Hal ini didasarkan pada tidak terjadinya kegempaan dalam, menunjukkan tidak ada tekanan berlebihan di dapur magma.

Selain itu, migrasi magma berlangsung pelan ditunjukkan dengan seismisitas VTA yang terjadi, jumlah dan pola peningkatan kegempaan dan deformasi EDM mengikuti pola 2006 yang mana bersifat efusif.

Kemudian, banyak terjadi gempa hembusan menandakan lepasnya gas. 

Visual Gunung Merapi saat dipotret dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jumat (6/11/2020).
Visual Gunung Merapi saat dipotret dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jumat (6/11/2020). (Tribunjogja/ Almurfi Syofyan)

Permintaan Sri Sultan HB X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, meminta BPPTKG Yogyakarta memikirkan analisis terkait  kepastian yang riil soal potensi ancaman lava Merapi.

Sultan menyebut hal itu penting guna mengambil upaya yang komprehensif terhadap potensi bencana alam. 

"Saya ingin kepastian dari BPPTKG, kalau lava meleleh kan itu nggak ada masalah. Tapi kalau pengalaman 2010, itu kan meletus ke atas. Dan kalau itu letusannya setinggi 1.000 -1500 meter saja batunya kan ikut turun," kata Sultan, seusai apel siaga persiapan menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob.

Sultan melanjutkan, letusan larva itu tidak hanya berdampak pada kawasan di seputar Merapi saja, melainkan bisa sampai ke Kota Yogyakarta jika angin bertiup cukup signifikan. 

"Batu yang berat ya bisa saja cuman terlempar di sekitar Merapi, tapi kalau yang halus kan bisa sampai Kota Yogya kalau anginnya ke selatan. Kan tidak mungkin hanya ke tenggara karena meletusnya ke atas," jelas dia. 

Baca juga: Gunung Merapi Berstatus Siaga, Rumah Sakit di DIY Disiapkan dalam Rencana Penanggulangan Bencana

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi, Suara Guguran Terdengar Tiga Kali dan Teramati Satu Kali Berjarak 700 Meter

Sejauh ini, menurut Sultan laporan dari BPPTKG Yogyakarta, lava memang belum tampak di sekitar kubah Merapi.

Pasalnya, lava itu akan muncul jika ada dorongan gas dari bawah yang cukup besar hingga kemudian menyembur. 

"Berarti gasnya ini kan belum maksimal. Kemarin kan keluar gasnya. Jadi ya rada gembos. Semoga gembos saja gitu. Tapi kita kan tidak bisa memperkirakan," lanjut dia. 

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meninjau kesiapan perlengkapan dan personel dalam apel siaga menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob Baciro.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meninjau kesiapan perlengkapan dan personel dalam apel siaga menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob Baciro. (TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon)

"Nanti tergantung perkembangan kawah itu per harinya tambahnya berapa sentimeter. Kalau sudah siaga gini kan terus cepat," sambung dia. 

Sultan juga meminta instansi kebencanaan maupun personel yang terlibat di dalamnya untuk belajar dari pengalaman erupsi Merapi pada 2010 lalu, baik penanganan maupun rehabilitasinya. 

Misalnya saja penanganan terhadap korban yang terkena guguran lava.

Sultan meminta unit SAR yang menjadi garis terdepan dalam evakuasi korban untuk melakukan langkah-langkah awal terhadap korban itu sebelum mendapat pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.  

( tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved