Gunung Merapi

BPPTK Yogyakarta: Laju Deformasi Gunung Merapi 12 Cm per Hari

BPPTKG Yogyakarta melaporkan teramati guguran kecil sebanyak satu kali di sektor barat pada L 1888.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga
KAWAH MERAPI - Asap mengepul dari kubah lava Merapi sisi tenggara pada Selasa (8/1/2019) pagi 

TRIBUNJOGJA.COM Yogyakarta - Intensitas guguran Gunung Merapi terus menunjukkan peningkatan hingga Selasa (10/11/2020).

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan sempat terdengar suara guguran sebanyak satu kali dari pos pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan dengan kekuatan sedang pada periode amatan Selasa (10/11/2020) pukul 12.00-18.00 WIB.

Seorang petugas tengah mengamati aktivitas Gunung Merapi di ruang pengamatan Kantor BPPTKG Yogyakarta
Seorang petugas tengah mengamati aktivitas Gunung Merapi di ruang pengamatan Kantor BPPTKG Yogyakarta (TRIBUNJOGJA.COM)

"Terdengar suara guguran satu kali dari Pos Babadan (dengan kekuatan) sedang," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaira, Selasa (10/11/2020).

Pada periode amatan yang sama, secara visual gunung terlihat jelas hingga kabut 0-II.

Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 50 m di atas puncak kawah.

Suara guguran Gunung Merapi juga sempat teramati oleh BPPTKG sebanyak dua kali dengan kekuatan lemah hingga cukup keras dari Kaliurang pada Selasa (10/11/2020) antara pukul 00.00-06.00 WIB.

Sementara secara visual, dalam periode amatan di hari yang sama pukul 00.00-12.00 WIB asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 50 m di atas puncak kawah.

Pada periode amatan sehari sebelumnya, Senin (9/11/2020) pukul 00.00-24.00 WIB.

BPPTKG melaporkan teramati guguran kecil sebanyak satu kali di sektor barat pada L 1888.

Pada periode ini pula, terdengar suara guguran sebanyak dua kali dari Babadan dan Turgo, antara pukul 18.00-24.00 WIB.

"Pada Senin (9/11/2020), laju rata-rata deformasi (perubahan bentuk) EDM (electronic distance measurement) Babadan sebesar 12 cm/hari," imbuh Hanik.

Sebagai tambahan informasi, dikutip Tribunjogja.com dari mgm.slemankab.go.id, Deformasi bawah permukaan gunungapi memberikan petunjuk proses magma di bawah gunungapi yang dapat dijadikan indikator kemungkinan letusan gunungapi.

Pemantauan deformasi di gunungapi Merapi, salah satunya menggunakan GPS ( Global Positioning System) dan EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengukur pertumbuhan kubah lava.

Teknologi GPS sangat baik digunakan untuk pemantauan deformasi gunungapi karena pengukuran GPS memberikan perubahan posisi titik pengukuran secara tiga dimensi dengan akurasi milimeter hingga centimeter, tidak terpengaruh kondisi perubahan cuaca, dapat dilakukan secara terus menetus selama 24 jam dan tidak memerlukan hubungan jarak pandang di antara titik-titik pengamatan dalam jaringan pengamatan GPS.

Melalui pengukuran secara periodik pada garis vector yang sama, diharapkan besaran dan kecepatan perubahan karena deformasi tubuh gunungapi dapat diketahui.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved