Gunung Merapi

Ini Profil Wedhus Gembel Yang Acap Menyertai Letusan Gunung Merapi

Ini Profil Wedhus Gembel Yang Acap Menyertai Letusan Gunung Merapi.Wedhus Gembel menyebabkan korban jiwa dalam peristiwa erupsi Gunung Merapi 2010

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yudha Kristiawan
Twitter/@BPPTKG
Ilustrasi : Gunung Merapi kembali meletus pada Minggu (17/11/2019) siang pukul 10.46 WIB dengan tinggi kolom 1000 meter. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Istilah wedhus gembel menjadi begitu lekat di masyarakat setelah peristiwa erupsi besar Gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam.

Wedhus gembel menjadi sebab timbulnya korban jiwa pada saat itu. Apa sebenarnya Wedhus Gembel yang menjadi bagian dari letusan Gunung Merapi saat itu ?

Wedhus Gembel sejatinya adalah sebutan dalam bahasa jawa untuk jenis Kambing yang memilki bulu lebat.

Dikutip dari kompas.com, Wedhus Gembel yang menyebabkan korban jiwa dalam peristiwa erupsi Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010 silam adalah julukan untuk awan panas bergulung-gulung yang acap menyertai letusan Merapi.

Awan panas Merapi sendiri terdiri dari dua bagian, mengutip Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK). 

Pertama, bagian fragmen batuan dalam berbagai ukuran, termasuk yang seukuran debu, dan kedua, gumpalan gas bersuhu 200-700 derajat celsius.

Baca juga: Begini Erupsi Gunung Merapi Yang Terjadi Tahun 2010, Erupsi Besar Terjadi, Menghasilkan Awan Panas

Baca juga: Mencicipi Kopi Merapi, Salah Satu Andalan Wisata Kuliner Masyarakat Lereng Gunung Merapi

Kedua unsur ini bercampur mengalir secara turbulen dengan kecepatan lebih dari 80 kilometer per jam.

Awan Panas yang menewaskan banyak warga lereng Merapi kala erupsi tanggal 26 Oktober 2010 silam, bahkan mencapai kecepatan 200 km per jam saat turun dari punggung gunung.

Sedangkan Abu vulkanik tersebar dari awan panas yang terbang dan terendapkan menurut besar dan arah angin.

Jarak luncur awan panas umumnya bergantung kepada volume dan formasinya dan bergerak mengikuti alur topografi dan lembah sungai.

Volume lebih besar akan menjangkau area yang lebih jauh akibat pengaruh momentum dan efek lain. Tak heran apabila pada letusan besar, awan panas bisa menjangkau hingga 15 kilometer.

Awan panas letusan biasanya bisa mengalir sejauh lebih dari 8 kilometer dari puncak. Selain volume, jauhnya jarak luncur awan panas juga dipengaruhi oleh temperatur yang lebih tinggi, kandungan gas lebih banyak, dan memiliki kecepatan awal lateral pada saat jatuh.

Dengan kondisi lebih banyak gas dan temperatur tinggi, wedhus gembel dipastikan merusak apa saja yang ditemuinya. 

Untuk diketahui, sebagian besar korban erupsi Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam merupakan korban luncuran awan panas yang dimuntahkan Gunung setinggi 2.968 meter di perbatasan Jawa Tengah Yogyakarta tersebut.

Dikutip dari www.esdm.go.id, awan panas yang juga sering disebut warga sebagai Wedhus Gembel tersebut suhunya dapat mencapai 1.000-1.100 Celcius saat keluar kawah, dan ketika menerjang permukiman suhunya menjadi sekitar 500-600 Celcius.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo kala itu menuturkan, bahwa lantaran gerakan dari muntahan Merapi tersebut bergumpal-gumpal dan berwarna keputihan dan dari jarak jauh seperti bulu wedhus (domba) gembel maka warga setempat menamakannya Wedhus Gembel. 

Secara umum kandungan Wedhus Gembel yang nama ilmiahnya pyroclastic density flow adalah zat padat (debu volkanik dengan ukuran mulai dari ash sampai lapili), dan fase gas (CO2, sulfur, chlor, uap air dan lainnya) yang bercampur udara.

Asap pembakaran bangkai hewan ternak yang tewas akibat awan panas Merapi 2010 di Dusun Bronggang, Cangkringan, Sleman
Asap pembakaran bangkai hewan ternak yang tewas akibat awan panas Merapi 2010 di Dusun Bronggang, Cangkringan, Sleman (Tribunjogja.com )

Pada Gunung Merapi, awan panas terbentuk oleh mekanisme guguran lava baru, sering disebut "nuee ardante d' avalance". Awan panas jenis ini akan mengalir melalui zona lembah sungai dan kanan/ kirinya, mengikuti arah aliran dari luncuran lava pada dasar lembah.

Dalam situs volcanolive.com, pakar vulkanologi John Seach menyebutkan, Merapi merupakan satu gunung yang paling aktif dan berbahaya di dunia.

Merapi memiliki kubah lava dan selalu meletus dalam jangka satu sampai lima tahun, menjadikannya gunung paling aktif di Indonesia.

John Seach telah mendokumentasikan aktivitas 180 gunung di seluruh belahan bumi, dan menurutnya Merapi menghasilkan awan panas lebih banyak dari gunung mana pun di dunia.

Dalam situsnya Seach juga mengungkapkan bahwa gerakan awan panas Merapi mencapai 7 hingga 13 kilometer dari puncak.

Sehingga warga yang berada pada radius tersebut harus segera menjauhi puncak dan mencari lokasi yang aman bila aktivitas Gunung Merapi meningkat.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved