Breaking News:

Jakob Oetama Meninggal Dunia

Mengenang Jakob Oetama : Sosok Luar Biasa yang Tetap Biasa Itu Akan Terkenang Sepanjang Masa

Jakob Oetama telah menorehkan catatan, tak hanya bagi kalangan Kompas Gramedia, namun juga bangsa Indonesia

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Selamat Jalan Jakob Oetama, 27 September 1931-9 September 2020. 

Bekerja keras, dalam tim yang sinergik, merupakan keharusan. Kompas menjadi besar berkat kerja keras, kerja bersama, bantuan berbagai pihak, dan berkat Tuhan. Jangan pernah letih menyuarakan apa yang hidup dalam hati rakyat, pada saat yang sama memberikan harapan dengan menyampaikan sisi positif bangsa dan negara ini. -Jakob Oetama (1931-2020), pendiri Kompas.

CITA-CITANYA saat itu muncul bersamaan: menjadi guru atau pastor. Maklum, ia lahir dari keluarga guru. 

Di sisi lain, ia hidup dan besar di lingkungan Katolik. Ayahnya, Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo (1911-1975), adalah guru sekolah rakyat (sekarang setingkat sekolah dasar, Red), yang berpindah-pindah mengajar. 

Ia pernah bertugas di Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sampai ke Wates, Kabupaten Kulon Progo, dan terakhir di Kabupaten Sleman, DIY.

Memasuki masa pensiun, bersama ayah dan ibunya, Margaretha Kartonah Brotosoesiswo (1914-1999), Jakob, anak pertama dari 13 bersaudara, menetap di Dukuh, Tridadi, Kabupaten Sleman, pinggir Jalan Raya Yogyakarta-Magelang. 

Pendidikan menengah ia habiskan di Seminari Menengah Mertoyudan, berlanjut ke Seminari Tinggi meski akhirnya mundur.

“Oleh bapak, saya kemudian disuruh menemui Pak Patmo (Yosep Yohanes Supatmo, Red), pendiri Yayasan Pendidikan Budaya, beralamat di Jakarta. Justru, cita-cita saya menjadi guru tidak terwujud di sana, tapi di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, 1952-1953,” tutur Jakob, yang lahir di Borobudur, 27 September 1931, dalam buku "Syukur Tiada Akhir" (2011).

Jakob Oetama, Rasa Cintanya kepada Manusia, Pendidikan dan Wartawan . . .

Duka Cita Jokowi atas Wafatnya Jakob Oetama: Saya Sungguh Kehilangan, Almarhum adalah Tokoh Bangsa

Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi peraduan selanjutnya, dari 1953-1954.

Ia berpindah lagi ke SMP Van Lith, Jalan Gunung Sahari, Jakarta, selama dua tahun (1954-1956).

“Mungkin karena kemudian bekerja sebagai sekretaris redaksi majalah sekaligus Pemimpin Redaksi Penabur sejak 1956, saya kemudian semakin tertarik dalam bidang jurnalistik. April 1961, Petrus Kanisius Ojong menemui saya di Yogyakarta,” ulas Jakob.

Halaman
123
Penulis: Sigit Wdiya
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved