Yogyakarta
Sultan Ungkapkan Lima Makna Penting Puncak Acara Refleksi Sewindu UU Keistimewaan DIY
Sebab, hari ini tepat 75 tahun berjalan amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Pakualam VIII yang dikenal dengan maklumat 5 September 1945
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sabtu (5/9/2020) ini menjadi hari penting bagi rakyat dan pemerintah DIY.
Sebab, hari ini tepat 75 tahun berjalan amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Pakualam VIII yang dikenal dengan maklumat 5 September 1945.
Peristiwa bersejarah itu dimaknai sebagai demokrasi khas Yogyakarta.
Selain itu, pada hari ini merupakan momentum 8 tahun atau sewindu Undang-Undang (UU) Keistimewaan DIY.
Dialog budaya dan gelar seni Yogya Semesta digelar di Amphiteater dan Ruang Terbuka Grhatama Pustaka, Sabtu (5/9/2020) malam.
Acara yang merupakan malam puncak refleksi sewindu UU Keistimewaan DIY ini mengangkat tema “Refleksi Semangat 5 September 1945 Guna Membangun Peradaban Keistimewaan DIY”.
• Hari Ini Sewindu UUK DIY, Berikut Perjalanan Keistimewaan
Hadir dalam acara tersebut di antaranya Gubernur DIY, GKR Hemas, Wakil Gubernur DIY, GKBRAy Adipati Pakualam, Danrem 072 Pamungkas, Wakapolda DIY, Sekda DIY, dan segenap tamu undangan lainnya.
“Saya mengapresiasi mereka yang dengan sukarela mendukung komitmen dialog budaya dan gelar seni Yogya Semesta. Dengan misinya untuk menggali, mengkaji, menguji, dan merevitalisasi budaya Yogya yang bermatra semesta,” ungkap Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya.
Sultan pun mendukung malam budaya ini karena dirinya berharap bukan sekadar dialog yang menginspirasi, namun hendaknya dilanjutkan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dengan pemberdayaan.
“Harus ada usaha OPD untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai budaya Yogya ke tataran kebijakan dan program guna mendorong perubahan perilaku budaya masyarakatnya,” tuturnya.
Ia melanjutkan, ketika kebudayaan menjadi kekuatan dan pilar itu benar-benar didayagunakan, maka dapat menjadi wahana percepatan pemerataan kesejahteraan dan keadilan yang menuju keistimewaan DIY.
Menurutnya, proses penyegaran budaya memang menjadi keniscaayaan sejarah. Itulah substansi makna restukturisasi budaya.
• Cerita Dalang Perempuan Asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Pernah Salah Suara
“Agar penghargaan itu tumbuh pemaknaannya harus ditegaskan berulang-ulang oleh para cendekiawan dan budayawan seperti upaya Yogya Semesta yang selama 13 tahun telah memasuki seri ke-132 ini,” tandas Sri Sultan.
Selain itu, Sultan menyebutkan momentum malam ini membawa 5 makna penting.
Pertama, digelar di ruang terbuka menandakan transformasi informasi yang bisa diakses baik melalui website Keraton dan Pakualam maupun Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.
Kedua, gelar seni Bedoyo Sapto Yasan Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX diakhiri Beksan Bondoboyo Yasan Dalem Sri Pakualam II menggambarkan soliditas kepemimpinan dwitunggal DIY.
Ketiga penyerahan piagam Yogya Semesta adalah untuk memperkuat jaringan pemikiran kolektif guna membangun ekosistem budaya dinamik agar menjadi lokomotif pembaharuan.
Keempat, adanya tim refleksi atas lima bidang, yakni kebudayaan, pendidikan, pariwisata, transportasi, dan kelautan diharapkan dapat menjadi mitra dialog kebijakan Pemda DIY.
Kelima penegasan dedikasi dan loyalitas rakyat dan pemerintah DIY terhadap NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan ke-bhinekatunggalika-an yang tak pernah luntur dari gejolak zaman. (TRIBUNJOGJA.COM)