Yogyakarta
Teknologi Nyamuk Ber-Wolbachia WMP Yogyakarta Berhasil Turunkan 77 Persen Kasus DBD
Ada penurunan 77 persen kasus dengue pada wilayah intervensi dengan nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dalam \memberantas penyakit demam berdarah dengue (DBD), World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta telah mengembangkan teknologi nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia sejak 2011 hingga saat ini di DIY.
Dengan nyamuk ber-Wolbachia, diyakini bisa mencegah transmisi virus dengue dari nyamuk ke manusia.
Sebab, bakteri Wolbachia pada nyamuk mampu memblok replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Project Leader WMP Yogyakarta, Prof dr Adi Utarini mengungkapkan hasil penelitian WMP Yogyakarta dalam Konferensi Pers “Dampak Efikasi Wolbachia untuk Penurunan Dengue di Kota Yogyakarta: Hasil Akhir RCT” pada Rabu (26/8/2020).
• Teknologi Wolbachia, Inovasi UGM untuk Kemanusiaan
"Hasilnya alhamdulillah sangat signifikan, sangat bermakna. Ada penurunan 77 persen kasus dengue pada wilayah intervensi dengan nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia," ujarnya.
Ia mengklaim, penelitian dengan metode randomised controlled trial (RCT) yang dilakukan WMP Yogyakarta adalah penelitian pertama dengan sampel terbesar di dunia.
Uut, sapaan akrab Prof dr Adi Utarini, menjelaskan RCT dipilih karena pihaknya ingin melakukan penelitian dengan standar ilmiah dan quality control yang terbaik.
Desain RCT diyakini dapat memberikan tingkat kepercayaan tertinggi kepada masyarakat dibanding desain yang lain.
Meskipun telah diterapkan intervensi nyamuk ber-Wolbachia, Uut menerangkan, seluruh wilayah tetap perlu melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau aktivitas lain dalam pengendalian DBD.
"Dengan persetujuan masyarakat, daerah penelitian kami bagi dua, yakni ada 12 wilayah yang kami terapkan Wolbachia dan 12 wilayah lain sebagai wilayah kontrol atau pembanding," ungkapnya.
Setelah itu, lanjut Uut, dilakukan pelepasan nyamuk di wilayah intervensi selama 8 bulan.
Setelah populasi nyamuk aedes aegypti cukup tinggi, WMP Yogyakarta melakukan pengujian kepada masyarakat untuk mengetahui perubahan angka kasus DBD.
• WMP Yogyakarta Jelaskan Bakteri Wolbachia pada Nyamuk Aedes Aegypti Tidak Menginfeksi Manusia
"Dari Januari 2018 sampai Maret 2020 kami pantau pasien demam yang datang ke Puskesmas. Ada 18 puskesmas dengan 8.100 orang yang memenuhi kriteria. Dengan persetujuan mereka, dilakukan pengujian virologis apakah terkena DBD atau tidak," paparnya.
Ternyata, ditemukanlah hasil signifikan berupa penurunan angka DBD di lokasi intervensi dengan nyamuk ber- Wolbachia sebesar 77 persen.