Kota Yogya

Kasus DBD di Kota Yogyakarta Turun Drastis Setelah Mendapat Intervensi Nyamuk Ber-Wolbachia

Teknologi nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia terbukti berhasil menurunkan angka kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / tangkapan layar
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi (kiri) dan Project Leader WMP Yogyakarta, Prof dr Adi Utarini (kanan). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Teknologi nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia yang dikembangkan World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta terbukti berhasil menurunkan angka kasus demam berdarah dengue (DBD) secara signifikan di Kota Yogyakarta.

Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi dalam Konferensi Pers “Dampak Efikasi Wolbachia untuk Penurunan Dengue di Kota Yogyakarta: Hasil Akhir RCT” pada Rabu (26/8/2020). 

"Kami berterima kasih atas dedikasi Kedokteran Tropis UGM dan WMP Yogyakarta atas kerja samanya. Sejumlah kasus DBD yang dulu cukup tinggi juga terus menurun. Kami optimistis teknologi Wolbachia ini bisa meredam kasus DBD," ujar Heroe.

Teknologi Nyamuk Ber-Wolbachia WMP Yogyakarta Berhasil Turunkan 77 Persen Kasus DBD

Ia menyebutkan, pada 2016 kasus DBD mencapai 1.700 lebih di Kota Yogyakarta.

Tahun-tahun berikutnya ada penurunan cukup drastis, hingga jumlah kasus hanya berkisar ratusan.

"Sampai Agustus hanya 264 kasus yang masih muncul di Kota Yogyakarta," imbuhnya.

Heroe berharap, WMP Yogyakarta tetap melakukan monitoring terus-menerus dan dukungan kepada Kota Yogyakarta

Saat ini, kata dia, belum semua masyarakat menikmati teknologi nyamuk ber-Wolbachia karena ada wilayah di Kota Yogyakarta yang menjadi wilayah pembanding sehingga tidak dilakukan intervensi.

 Teknologi Wolbachia, Inovasi UGM untuk Kemanusiaan

"Sudah saatnya seluruh masyarakat Yogyakarta menikmati hasil dari teknologi Wolbachia yang bisa menurunkan kasus DBD," tambahnya.

Heroe menambahkan, kasus DBD di  Kota Yogyakarta paling banyak  terjadi di wilayah-wilayah selatan, sebab topografinya lebih rendah sehingga air mengalir lebih banyak ke selatan.

"Kami juga masih melibatkan masyarakat terutama untuk memonitor sebaran nyamuk. Baik anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, terlibat gerakan satu rumah satu Jumantik. Ini menjadi catatan dunia bahwa kebersamaan kita menanggulangi sebaran DBD ini menjadi sumbangan yang luar biasa," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved