Wabah Virus Corona

Kata Pakar UGM: Vaksin Bukan Satu-satunya Cara Hentikan Pandemi Covid-19

wabah virus corona sebelumnya seperti SARS-CoV tahun 2002-2003 dan MERS-CoV tahun 2012 juga berhasil dihentikan tanpa vaksin.

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Rina Eviana
dok.istimewa
Ilustrasi vaksin Covid-19 

Tribunjogja.com - Indonesia saat ini tengah melakukan uji klinis Vaksin Covid-19 Sinovac yang berasal dari China. 

Uji coba dilakukan pada sejumlah relawan sebagai tahap uji klinik fase 3 di Indonesia untuk dapat menilai efikasi atau keandalan vaksin tersebut. 

Namun demikian, Vaksin corona bukan satu-satunya cara menghentikan pandemi COVID-19, sebab wabah Virus Corona sebelumnya seperti SARS-CoV dan MERS-CoV sebelumnya berhasil dihentikan tanpa vaksin.

Karyawan yang bekerja di lini produksi vaksin virus corona COVID-19 di Apotek Bio Farma memproduksi vaksin tersebut awal tahun depan dengan kapasitas produksi 250 juta vaksin setahun. Foto Diabadikan pada 12 Agustus 2020 di Bandung, Jawa Barat.
Karyawan yang bekerja di lini produksi vaksin virus corona COVID-19 di Apotek Bio Farma memproduksi vaksin tersebut awal tahun depan dengan kapasitas produksi 250 juta vaksin setahun. Foto Diabadikan pada 12 Agustus 2020 di Bandung, Jawa Barat. (Bay ISMOYO / AFP)

Pakar virologi dari FKKMK UGM, dr. Mohamad Saifudin Hakim, MSc., PhD, menyebutkan wabah virus corona sebelumnya seperti SARS-CoV tahun 2002-2003 dan MERS-CoV tahun 2012 juga berhasil dihentikan tanpa vaksin.

Bahkan, negara-negara yang sukses menahan laju peningkatan kasus COVID-19, seperti China sendiri, Korea Selatan, Selandia Baru, Taiwan, mereka pun bisa menekan peningkatan kasus dengan upaya-upaya pencegahan penularan yang dilaksanakan dengan baik dan disiplin. 

“Saya kira pemerintah tetap perlu melakukan berbagai upaya pencegahan persebaran Covid-19 ini secara maksimal. Dan masyarakat harus disiplin melaksanakan upaya pencegahan penularan. Tidak boleh kendor sama sekali,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/8/2020)

Jumlah Relawan Vaksin Covid 19 Membludak, Pendaftaran Langsung Ditutup

Menurutnya, tindakan pencegahan seperti isolasi kasus, contact tracing dan karantina, penjarakan fisik, memakai masker dan cuci tangan, dan karantina komunitas (lockdown) sangat diperlukan.

Meski saat ini produk vaksin Sinovac yang tengah diuji secara klinis, menurutnya tidak bisa diklaim ini akan efektif digunakan nantinya, sebab perlu menunggu hasil uji klinisnya. 

“Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa vaksin yang sedang diuji klinis saat ini pasti akan efektif dan sudah pasti menjadi pilihan untuk diedarkan. Ini kesimpulan yang terlalu dini,” ungkapnya.

Ia menilai kandidat vaksin yang sudah masuk ke uji klinis fase 3 tidak menjamin bahwa uji klinisnya akan berhasil. 

Banyak kandidat vaksin yang sudah menjalani uji fase 3 namun gagal karena ternyata terbukti tidak efektif.

Presiden Joko Widodo meninjau fasilitas dan kapasitas produksi vaksin Covid-19 di Bio Farma.
Presiden Joko Widodo meninjau fasilitas dan kapasitas produksi vaksin Covid-19 di Bio Farma. (Dok BIO FARMA)

Meski demikian, Hakim berpendapat  pengembangan vaksin Covid-19 sekarang ini salah satu upaya dilakukan banyak negara untuk menghentikan pandemi. 

Hal itu karena banyak penelitian sudah menunjukkan bahwa antibodi yang terbentuk setelah infeksi SARS-CoV-2 secara alami ternyata tidak bertahan lama lalu akan menghilang dalam 2-3 bulan.

Bila nantinya dari hasil uji coba vaksin Sinovac ini berhasil di tanah air, lalu dimasukkan ke dalam program imunisasi nasional, menurutnya kontinuitas program tersebut akan bergantung pada suplai vaksin yang cukup.

LBM Eijkman Perpendek Proses Tahapan Pengembangan Vaksin Merah Putih

Oleh karena itu, ia berharap Indonesia bisa memproduksi sendiri.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved