Yogyakarta
Sultan: 75 Tahun Masih Mempersoalkan Nasionalisme
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada pekan lalu meminta agar generasi milenial mampu untuk memiliki jiwa nasionalisme. Hal ini diucapkan dal
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada pekan lalu meminta agar generasi milenial mampu untuk memiliki jiwa nasionalisme.
Hal ini diucapkan dalam rangka peringatan HUT ke-75 RI.
"Kita sudah 75 tahun (merdeka), jadi saya punya harapan bagaimana warga masyarakat Yogya dan khususnya anak-anak muda tetep bisa menghayati dan mengapresiasi api semangat nasionalisme," ungkapnya, di Kepatihan.
Sultan menambahkan, pendiri bangsa telah mengorbankan jiwa raga mereka untuk memerdekakan Indonesia.
Maka sudah seharusnya seluruh rakyat di bumi Pertiwi menjaganya dengan komitmen sebagai satu bangsa dan negara.
• Pembelajaran Tatap Muka Belum Akan Dilakukan di DIY, Sri Sultan HB X : Risikonya Terlalu Besar
"Nasionalisme ini perlu kesadaran, kemauan. Mosok kita 75 tahun masih mempersoalkan masalah nasionalisme? Sebetulnya Allah menciptakan bumi dengan isinya itu dasarnya memang berbeda-beda. Jadi itu sunatullah. Jangan merasa benar sendiri karena yang berbeda-beda itu, kemajemukan itu yang diciptakan," tegas Raja Keraton Yogyakarta tersebut.
Memiliki latar belakang dari bangsa yang gigih dalam berjuang, sudah sepantasnya pada momen kemerdekaan ini, dimana juga berbarengan dengan pandemi Covid-19, Sultan mengajak rakyatnya untuk membangun empati bersama.
"Jangan digunakan pada konteks politik yang justru banyak menumbuhkan kegaduhan yang itu tidak nyaman bagi sebagian warga," pesannya.
• Jangan Sampai Terlewat, Cek 10 Restoran yang Beri Promo 17-an di Bulan Agustus
Ia pun meminta, agar masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta yang menjadi miniatur Indonesia dengan beragam suku dan agama yang hidup di dalamnya, untuk mampu hidup berdampingan dan tidak mempermasalahkan perbedaan.
"Bagaimana kita dengan peristiwa 17 Agustus, (usia) 75 tahun kita makin dewasa untuk punya kesadaran berbangsa dan bernegar. Dari awal, berbeda-beda itu bangsa ini dibangun. Jadi jangan merasa minoritas maupun mayoritas. Jangan ada perasaan untuk saling menghancurkan," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)