Pendidikan

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Indonesia pun berkomitmen menyediakan layanan PAUD untuk membantu anak-anak tumbuh berkembang secara holistik dan siap bersekolah.

Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri K
Ilustrasi: Ribuan anak-anak PAUD dan TK yang ada di Kabupaten Magelang dikumpulkan, Senin (30/4/2018) pagi dengan ditemani orangtua, dan guru serta pendamping turut serta dalam sosialisasi Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku atau Gernas Baku dan Lomba Gerak 123 di GOR Gemilang, Komplek Pemerintah Kabupaten Magelang. 

TRIBUNJOGJA.COM – Usia lahir sampai 8 tahun menjadi pondasi pembentukan berbagai kemampuan dasar anak, seperti motorik, kognitif, dan sosial emosional.

Hal itu diungkapkan beberapa penelitian United Nations Children's Fund (UNICEF) pada 2018. 

Developing Child, Harvard, juga menyatakan, pada usia dini otak berkembang sangat pesat karena terjadi pembentukan jutaan koneksi saraf.

Lalu pada 2015, The Programme for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan, dalam jangka panjang, anak yang mengikuti pendidikan anak usia dini ( PAUD) bisa mencapai nilai 57 poin.

Lebih tinggi dari rata-rata nilai anak internasional, yaitu 42 poin.

Menanggapi hal tersebut, Indonesia pun berkomitmen menyediakan layanan PAUD untuk membantu anak-anak tumbuh berkembang secara holistik dan siap bersekolah.

Ratusan Guru PAUD DIY Ikuti Kelas Daring “Rumahku Adalah Sekolahku”

Namun, pada masa pandemi Covid-19 ini, terdapat beberapa miskonsepsi terkait PAUD yang beredar di masyarakat.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah (PAUD dan Dikdasmen) dalam keterangan tertulisnya Rabu (12/8/2020) menjelaskan dua miskonsepsi tersebut.

Pertama, PAUD dianggap bukan suatu kebutuhan.

Kedua, satuan PAUD dikira baru akan beroperasi pada November 2020.

Padahal, satuan PAUD sudah beroperasi pada tahun ajaran baru yaitu Juli.

Hanya saja demi kesehatan dan keselamatan semua pihak, pembelajaran belum dilakukan secara tatap muka langsung.

"Miskonspesi tersebut pun menyebabkan beberapa orangtua merasa tidak perlu mendaftarkan anaknya ke satuan PAUD," tulis Ditjen PAUD dan Dikdasmen.

Guru PAUD Hadapi Permasalahan Kompleks Selama Pandemi, Orang Tua Tak Siap Hadapi Pembelajaran Daring

Kondisi tersebut berpotensi membuat masa emas anak tidak termanfaatkan secara optimal, meningkatkan kesenjangan capaian perkembangan anak dari keluarga mampu dan kurang mampu, serta hilangnya kesempatan bagi anak untuk mendapat stimulasi yang diperlukan.

Di sisi lain, jika hal tersebut terus berlangsung, ratusan satuan PAUD milik masyarakat terancam tutup dan ribuan guru PAUD kehilangan penghasilan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved