Update Corona di DI Yogyakarta
Ahli Virologi UGM Jelaskan Perkembangan Penelitian Vaksin Covid-19 di Dunia dan Indonesia
Anggapan sebagian orang bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi dari Bill Gates untuk menjual vaksin adalah suatu anggapan yang tidak benar.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pakar virologi UGM, dr Muhamad Saifudin Hakim menyebutkan manusia tidak bisa lagi bergantung pada terbentuknya antibodi alami atas penyakit Covid-19.
Sebab, menurutnya, sudah banyak sekali jurnal yang menunjukkan seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 antibodinya tidak akan bertahan lama.
“Hanya dua atau tiga bulan sudah akan hilang. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama,” ujar Hakim dalam wawancara di kanal YouTube MantaBSMI Health, Senin (10/8/2020).
Oleh karena itu, lanjutnya, penelitian penemuan vaksin Covid-19 menjadi sangat penting.
• Penjelasan Dokter Spesialis Saraf RSA UGM, Thermo Gun untuk Cek Suhu Tubuh Tidak Merusak Otak
Terutama untuk wilayah Indonesia yang hingga saat ini belum menunjukkan penurunan kasus.
Hakim mengungkapkan, anggapan sebagian orang bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi dari Bill Gates untuk menjual vaksin adalah suatu anggapan yang tidak benar.
“Mengapa? Karena pembuatan vaksin itu tidak pernah dimonopoli oleh negara atau perusahaan tertentu. Negara manapun dan perusahan farmasi manapun asal bisa lolos tahapan uji klinis fase tiga maka dia akan diberikan persetujuan,” tuturnya.
Para peneliti Indonesia, kata dia, yang tergabung dalam konsorsium lembaga peneliti Eijkman saat ini pun sedang mengembangkan vaksin untuk Covid-19.
Sementara, lanjut Hakim, di dunia saat ini sudah ada lebih dari 170 kandidat vaksin virus SARS-CoV-2.
Dari 170 lebih kandidat vaksin tersebut, yang saat ini berada di fase 3 ada sebanyak 7 kandidat.
• Dokter Spesialis THT RSA UGM Sebut Swab Test Tidak Merusak Otak
“Yang paling saya tahu, di antara 7 itu adalah kandidat vaksin yang dikembangkan University of Oxford. Selain itu, yang dikembangkan Moderna, perusahaan farmasi asal Amerika. Kemudian, ada pula yang dikembangkan perusahaan farmasi dari Cina, yaitu Sinovac dan Sinopharm,” ungkap Hakim.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini menerangkan, di Indonesia saat ini telah dilakukan kerja sama antara Sinovac dengan PT Bio Farma dan peneliti dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Pihak-pihak tersebut akan melakukan uji klinis fase 3 kepada 1.620 subjek di Bandung dan sekitarnya untuk menilai vaksin yang telah dikembangkan oleh Sinovac.
Mengapa uji klinis tersebut dilakukan di Indonesia?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ahli-virologi-ugm-jelaskan-perkembangan-penelitian-vaksin-covid-19-di-dunia-dan-indonesia.jpg)