Yogyakarta
Grebeg Besar Ditiadakan, Keraton Yogyakarta Bagikan Uborampe ke Kerabat
Prosesi upacara grebeg besar yang rutin dilaksanakan Keraton Yogyakarta setiap perayaan Idul Adha, untuk tahun ini ditiadakan.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Miftahul Huda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Prosesi upacara grebeg besar yang rutin dilaksanakan Keraton Yogyakarta setiap perayaan Idul Adha, untuk tahun ini ditiadakan.
Meski begitu, Keraton Yogyakarta tetap membagikan Uborampe atau pelengkap sesajen berupa gunungan rengginang, di tengah pandemi Covid-19.
Sejak pagi, para Abdi Dalem Keraton terlihat sibuk menyiapkan keperluan prosesi pembagian Uborampe di kompleks Keraton Yogyakarta.
Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono menuturkan, pelaksanaan agenda digelar dengan tata cara yang sama dengan pelaksanaan perayaan Idul Fitri, yang mempertimangkan protokol kesehatan.
• Gelar Salat Iduladha, Masjid Gedhe Kauman Terapkan Protokol Kesehatan Ketat
"Meski pun pelaksanaan gerebeg ditidakan, namun esensi gerebeg itu sendiri tidaklah hilang. Prosesi ini tetaplah bermakna sebagai ungkapan syukur dan sedekah dari raja kepada kerabat dan rakyatnya," katanya, Jumat (31/7/2020).
Disamping itu, lanjut putri kedua Sri Sultan Hamengkubuwono X itu mengatakan, prosesi grebeg pada zaman dahulu memang dibagi-bagikan.
"Grebeg pada zaman dahulu memang dengan membagikan gunungan uborampe. Bukan dengan merayah atau merebut gunungan seperti saat ini," imbuhnya.
Kegiatan kali ini menurutnya mampu meminalisir kerumunan.
Gunungan uborampe rengginang yang dibagikan berjumlah 2.700 buah.
Jumlah tersebut sama halnya dengan rengginang pada gunungan Estri dan gunungan Dharat seperti prosesi gerebeg gunungan pada mestinya.
Pantaun Tribunjogja.com, sekitar pukul 09.15 para Abdi Dalem telah membawa gunungan uborampe tersebut ke beberapa tempat di antaranya ke kerabat kerajaan Pakualaman, Kepatihan dan Masjid Gede Kauman.
Uborampe tersebut mulai dirangkai sejak Kamis (31/7/2020) kemarin di bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.
• Hukum Berpuasa di Hari Tasyrik Tanggal 11,12,13 Dzulhijjah, Begini Penjelasannya Menurut Syariat
Sementara itu, GKR Mangkubumi menambahkan, mengingat status tanggap darurat kembali diperpanjang, prosesi grebeg besar tidak dilakukan seperti tahun sebelumnya.
"Jadi kemarin itu kami membagikan wajik. Mengingat status tanggap darurat diperpanjang. Sementara ini pembagian baru diperuntukan untuk abdi dalem," ungkapnya.
Meski hanya diperuntukkan kepada abdi dalem dan kerabat kerajaan, esensi prosesi kali ini tetap tidak merubah filosofi dan kebudayaan yang sudah ada.
"Kalau esensi dan filosofi tentu tidak dapat merubah. Karena ini harus diadakan tanpa merubah nilai esensi. Kalau kemarin wajiknya kan ditaruh di gunungan. Sekarang bentuknya saja yang berubah," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/beberapa-abdi-dalem-keraton-yogyakarta-membawa-uborampe-gunungan-rengginang.jpg)