Wabah Virus Corona

HOAKS: Indonesia Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Virus Corona, Begini Penjelasan dari Ahli

Antibodi untuk melawan SARS-CoV-2 akan terbentuk dan dapat memblok sel dari serangan virus. Terbentuknya sitotoksis sel T atau pembunuh sel yang terin

Editor: Rina Eviana
NICOLAS ASFOURI / AFP
Ilustrasi: Seorang insinyur melihat sel-sel ginjal monyet ketika dia melakukan tes pada vaksin eksperimental untuk virus corona COVID-19 di dalam laboratorium Ruang Budaya Sel di fasilitas Biotek Sinovac di Beijing. Sinovac Biotech sedang melakukan satu dari lima uji klinis vaksin potensial yang telah disahkan di Cina 

- Dalam uji klinis fase 1 dan 2, para ahli akan melihat 2 hal. Pertama, antibodi yang bisa memblok infeksi virus COVID-19 terbentuk atau tidak. Kedua, apakah Sitotoksik Sel T terbentuk.

"Sejauh ini, fase 1 dan 2 kita sudah lihat publikasinya. Yang membuat (vaksin) dari China, Inggris, dan Amerika," ungkap Ahmad.

Para ahli pun sudah mulai bergerak untuk melanjutkan ke uji klinis fase 3 untuk menguji efektivitas vaksin yang dibuat.

Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)

Dalam fase 3 ini, diperlukan relawan yang tepat. Ketika yang dijadikan relawan adalah orang-orang yang bekerja di rumah dan selalu di rumah, target tersebut tidak tepat.

"Kemungkinan bisa saja yang diutamakan adalah nakes (tenaga kesehatan)," kata Ahmad.

Dalam kesempatan ini, Ahmad membantah bahwa nakes dijadikan kelinci percobaan. Itu tidak benar.

Pasalnya, sudah ada hasil penelitian uji klinis fase I dan II yang sudah dipublikasikan dan dibaca semua orang.

Hasil fase 1 dan 2 menyebutkan ada efek samping dari pemberian vaksin seperti mual, demam, dan pusing. Efek samping ini sama sama halnya dengan efek samping vaksin-vaksin lain dan dapat dikendalikan dengan obat yang ada.

Pemilihan tenaga kesehatan sebagai kelompok yang diujikan, karena jelas nakes berada di garda paling depan dalam penanganan pasien Covid-19. Mereka memiliki peluang besar untuk tertular virus penyakit.

Indonesia dijadikan kelinci percobaan?

Ada banyak orang yang bertanya-tanya kenapa Indonesia dipilih untuk uji klinis fase 3.

Menjawab pertanyaan itu, Ahmad menerangkan bahwa wilayah dengan angka penyebaran virus yang masih tinggi ideal untuk uji klinis fase 3.

"Untuk menguji efektivitas suatu vaksin, tentu idealnya kita mencari daerah hotzone, wilayah-wilayah yang infeksinya masih tinggi," terang Ahmad.

"China itu sudah terkendali. Beberapa waktu lalu mereka (China) ketemu 30 orang positif, langsung lockdown Beijing. Nah kita yang di Jakarta aja ada banyak banget, Jawa Timur dan Solo juga masih tinggi (kasus) per hari," ucapnya.

"Area-area yang tinggi seperti ini, justru malah ideal untuk menguji vaksin. Karena nanti kita bisa bandingkan, kelompok yang diberi vaksin dengan kelompok yang diberi plasebo (cairan kosong)."

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved