Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan, Ruang Sosial yang Digemari Anak-Anak

Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan, Ruang Sosial yang Digemari Anak-Anak

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Ketua Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan, Syaeful Cahyadi (kedua dari kanan-sarung) berfoto bersama penulis sekaligus Dewan Penasihat Forum Taman Bacaan Masyarakat, Gola Gong (tengah). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan didirikan sejak 2015 dan terus aktif hingga saat ini.

Di balik pendiriannya, ada sosok lima pemuda lokal yang memiliki empati pada lingkungan sosial di kampungnya.

Tak hanya koleksi buku-buku, perpustakaan ini juga memiliki rumah kaca hingga kanal YouTube yang cukup aktif.

Sering dikira rumah Pak Dukuh

Tak terhitung berapa banyak orang luar yang kecele saat melintas di sebuah rumah di Dusun Jlegongan, Margodadi, Seyegan, Sleman itu.

Suasana ramai memang identik dengan rumah Pak Dukuh.

Rumah yang dihuni Syaeful Cahyadi beserta kedua orang tua dan adiknya itu hampir tak pernah sepi. “Sering dikira aku dukuhnya,” seloroh Syaeful.

Terletak agak jauh dari jalan raya dan dikelilingi lingkungan yang masih asri, rumah itu tampak berbeda dari sekitarnya.

Terasnya telah disulap menjadi perpustakaan dan tempat belajar.

Ruang tamunya dipermak menjadi ruang baca yang terbuka bagi siapa saja. Setidaknya ada 1.100 koleksi buku di perpustakaan kampung ini.

Anggota DPD RI Temui Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Ini Tujuannya

Inspektorat DIY : Laporkan jika Ada Praktik Pungli di Sekolah

Syaeful Cahyadi, Ketua sekaligus satu di antara beberapa pendiri Perpustakaan Jlegongan awalnya prihatin dengan ketiadaan ruang sosial bagi anak-anak di kampungnya.

Bahkan, lapangan dan Taman Pendidikan Alquran (TPA) pun tak ada.

Sejak Desember 2014, Syaeful dan empat temannya membuat kegiatan bimbingan belajar bagi anak-anak di Dusun Jlegongan.

Hingga akhir 2015 kegiatan yang rutin dilaksanakan di pos ronda dusun itu terus berjalan. Dengan berbagai penambahan kegiatan dan fasilitas seperti koleksi buku-buku.

Lambat laun, koleksi buku yang ada semakin banyak dan pos ronda dirasa tidak lagi mencukupi kegiatan mereka.

Akhirnya, pada Mei 2016 mereka memindahkan perpustakaan itu ke teras rumah Syaeful.

“Orang tua malah minta agar perpustakaan dipindah di rumah saja, enggak usah di pos ronda,” tutur pemuda kelahiran Tangerang, 20 Oktober 1994 ini.

Alhasil, hampir setiap hari rumah keluarga Syaeful ramai oleh anak-anak.

Mereka berkumpul untuk sekadar bermain atau membaca buku. Dengan kondisi ini, Syaeful dan kedua orang tuanya mengaku sama sekali tak terganggu.

“Kami malah senang dengan mereka,” imbuhnya.

Tak hanya memfasilitasi anak-anak, remaja, dan masyarakat secara umum dengan ribuan koleksi bukunya, Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan juga rutin menyelenggarakan beragam aktivitas saat pandemi belum muncul.

Beberapa di antaranya adalah belajar bersama, kelas menulis aksara Jawa, kelas alam raya, kelas berkebun, njajah alas milang kori (masuk ke desa dan belajar budaya di dalamnya), buka puasa lintas agama, pembuatan konten YouTube, hingga pembuatan enam pojok baca di SD mitra.

Sementara, fasilitas yang hingga saat ini tersedia di perpustakaan ini di antaranya Ruang Baca Mohammad Hatta yang berukuran 8x4 m, Ruang Baca Dewi Sartika yang berukuran 3x3 m, Area Bermain, Greenhouse atau Rumah Kaca, dan Gubug Baca.

“Rumah kaca sebenarnya dibangun bapak saya. Tapi anak-anak dan pengunjung juga boleh belajar berkebun atau sekadar melihat tanaman di sana,” bebernya.

Dalam menjalankan operasionalnya, Syaeful mengatakan dana diambil dari swadaya para pengurus. Sementara, koleksi buku banyak mendapat sumbangan dari luar.

Berkat konsistensinya, Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan pun telah meraih beberapa penghargaan dari pemerintah daerah. Yang terbaru, penghargaan dari Bupati Sleman sebagai Juara 2 Lomba Perpustakaan Masyarakat/Komunitas tahun 2018.

Sementara, Syaeful diganjar menjadi Juara 1 Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan DIY tahun 2019.

Meski terletak di tengah kampung, Syaeful mengklaim Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan merupakan satu-satunya taman baca di Kabupaten Sleman yang memiliki akun YouTube resmi.

Masyarakat dapat menyaksikan beragam kegiatan perpustakaan ini lewat akun YouTube bernama sama, ‘Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan’.

Selain Syaeful, pengelola lainnya yakni Rully Rio Tamara, Riyadani Dwi Putranto, Rizki Kurniawan, Beryl Riby Hercules, Theresia Avilla Intan, Dominicus Pandya Galih Wicaksana, Wahika Nia Sentiya, dan Ivan Narendra. Semua masih berusia belasan hingga dua puluhan tahun.

Saat pandemi, menurut Syaeful mereka memberhentikan seluruh kegiatan rutin perpustakaan. Sebagai gantinya, mereka aktif menggalang donasi bagi warga terdampak Covid-19.

“Sejak awal pandemi, kami menggalang donasi. Sejak April. Terkumpul Rp3,57 juta yang disalurkan dalam bentuk paket sembako kepada 95 lebih kepala keluarga,” tandasnya.

Ke depan, selama kondisi masih diliputi pandemi Syaeful mengaku belum berani mengaktifkan kembali kegiatan rutin perpustakaan. Namun, mereka berencana menggarap proyek berikutnya, yakni membuat film pendek bertemakan alih fungsi lahan.

“Memang kadang bingung, ini perpustakaan atau LSM (lembaga swadaya masyarakat),” canda Syaeful. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved