Guru Besar UGM : Eucalyptus Belum Bisa Disebut Obat Anti Covid-19

Guru Besar UGM, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA., Apt., mengungkapkan eucalyptus belum bisa dianggap sebagai obat untuk anti virus corona

Tayang:
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Hari Susmayanti
DOK. Humas Kementerian Pertanian
Kementan akan memproduksi kalung dari tanaman eucalyptus yang diklaim mampu membunuh virus. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Belum lama Kementerian Pertanian (Kementan) merilis produk kalung eucalyptus sebagai anti virus corona.

Produk tersebut disebut dapat membunuh virus influenza, beta, dan gamma corona.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA., Apt., mengungkapkan eucalyptus belum bisa dianggap sebagai obat untuk anti virus corona (Covid-19).

Sebab masih diperlukan pembuktian dengan proses yang panjang hingga pengujian klinis atau pada manusia.

Selain itu juga harus mengantongi izin dari BPOM.

“Kalau disebut sebagai obat anti virus Covid-19 belum bisa. Apalagi kalau digunakan per oral untuk obat tidak direkomendasikan karena jika dosis penggunaan tidak tepat akan berbahaya,” jelasnya.

Dia menjelaskan batas aman penggunaan eucalyptus per oral berkisar antara 0,3-0,6 mililiter.

Sementara penggunaan berlebih akan menyebabkan iritasi pada lambung dan meracuni susunan syaraf pusat yang dapat berakibat kematian.

Penggunaan eucalyptus dalam bentuk kalung untuk alat kesehatan, dikatakan Pramono memang bisa saja berpotensi membantu proses penyembuhan pasien Covid-19. 

Penjelasan Soal Kalung Antivirus Corona Produk Kementan

Dua Hari, Bantul Tambah 9 Kasus Positif Virus Corona, Didominasi Transmisi Lokal

Zat aktif pada eucalyptus dapat dihirup dan membantu melegakan pernafasan pada pasien yang mengalami gejala sesak nafas.

Namun jika dalam bentuk kalung, maka harus diuji secara klinis.

“Kalau bentuk sediaannya minyak akan cukup dosisnya untuk dihirup sehingga minimal bisa melegakan nafas dan mengencerkan dahak.

Dalam hal ini bisa membantu obat standar yang diberikan kepada pasien Covid-19 dalam proses penyembuhan, bukan sebagai obat utama Covid-19,” tuturnya.

Pakar herbal UGM ini mengatakan eucalyptus mengandung sejumlah zat aktif yang bermanfaat bagi tubuh.

Dalam eucalyptus mengandung minyak atsiri yang di dalamnya terdapat senyawa 1,8 sineol yang bersifat antibakteri, antivirus, dan ekspketoran untuk mengencerkan dahak.

Ia mengungkapkan, pernah ada penelitian eucalyptus pada virus influenza dan virus corona.

Hasilnya menunjukkan mampu untuk membunuh virus flu dan corona.

“Virus corona Sars-CoV-2 ini kan baru, dalam uji Kementan kemarin menggunakan virus itu atau bukan? Misalpun sudah, kembali lagi kalau uji baru di tahap invitro, baru sebatas itu," katanya.

Penggunaan kalung eucalyptus diyakini bisa membunuh virus yang berada di luar tubuh, tetapi tidak efektif membunuh virus yang sudah berada di dalam tubuh karena dengan kalung zat aktif eucalyptus yang terhirup relatif kecil.

Walaupun bisa mematikan virus, tapi tidak signifikan.

Untuk membuktikannya, juga harus dilakukan uji klinik.

Selama ini eucalyptus digunakan secara topikal ataupun inhalasi.

"Bukan untuk digunakan per oral atau sebagai obat dalam. Pemakaian eucalyptus umumnya dioleskan atau dihirup seperti pada produk minyak kayu putih, balsem, roll on dan lainnya," ungkapnya. (Tribunjogja/Noristera Pawestri)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved