Breaking News:

Wawali Kota Yogya Minta Disperindag Perketat Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional

Wawali Kota Yogya Minta Disperindag Perketat Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Hari Susmayanti
Wawali Kota Yogya Minta Disperindag Perketat Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional
Ist
Pasar Giwangan Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Yogyakarta untuk meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah pasar tradisional yang memiliki kepadatan pengunjung cukup tinggi.

Pasar-pasar tersebut di antaranya Pasar Giwangan, Pasar Kotagede, Pasar Demangan, dan Pasar Sentul.

"Pasar Giwangan memang menjadi salah satu perhatian kita, karena sebagai pasar induk, dimana supplier luar kota memasukkan barang.

Interaksi dengan orang luar kota dan warga Kota Yogyakarta cukup tinggi dan intensif,"katanya, Senin (29/06/2020).

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Disperindag Kota Yogyakarta agar protokol COVID-19 di pasar tersebut diperketat.

Hal itu agar menjamin kemanan dan tidak terjadi sebaran COVID-19 di pasar tradisional.

"Kepala Disperindag (Kota Yogyakarta) sudah diminta untuk membereskan protokol COVID-19.

Tingkat kepadatannya tinggi, otomatis harus menjadi perhatian penting dan masih perlu dikuatkan dengan aturan yang lebih kuat,"sambungnya.

GM Production Indonesia dan Fortais Gelar NIkah Bareng Virtual Perdana di Indonesia

Dampingi Pelajar saat Pandemi Covid-19, Forum Anak Sleman Buka Layanan Curhat Online

Peta Sebaran Covid-19 di Indonesia Senin 29 Juni 2020 Sore Ini, Data Rincian Kasus di 34 Provinsi

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta memang saat ini tengah melakukan penataan pasar, namun secara bertahap. Setelah penataan di Pasar Beringharjo, Disperindag Kota Yogyakarta telah menata pasar Kranggan.

Kepala Disperindag Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono mengatakan memang tidak mudah melakukan penataan di pasar tradisional.

Sebab pihaknya tidak bisa terlalu represif, artinya perlu melakukan pendekatan dan diskusi dengan paguyuban pasar dahulu.

"Memang pekerjaan berat, karena berhubungan langsung pada masyarakat.

Memang ada pasar-pasar yang padat, sehingga memang dalam melakukan penataan terutama physical distancing dan sosial distancing agak sulit. Tetapi paling tidak kita atur dulu alur keluar dan masuknya pengujung,"katanya. (Tribunjogja/Christi Mahatma Wardhani)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved