Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sleman Alami Lonjakan

Hingga Senin (29/6/2020) jumlah kasus DBD di Kabupaten Sleman mencapai 603 kasus, dengan dua orang meninggal dunia.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Selain pandemi Covid-19, Kabupaten Sleman juga terancam lonjakan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Hingga Senin (29/6/2020) jumlah kasus DBD di Kabupaten Sleman mencapai 603 kasus, dengan dua orang meninggal dunia.

Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Sleman, Dulzaini, menyatakan baru pertengahan tahun namun jumlah kasus DBD hampir mendekati angka kasus dalam satu tahun di 2019.

Di tahun 2019, dalam satu tahun mencapai 724 kasus.

"Sekarang mencapai 603 kasus dengan pasien meninggal 2 orang. Paling banyak kasus masih di Kecamatan Prambanan," ujarnya.

Kecamatan lain yang mendominasi angka kasus DBD seperti Mlati, Godean, Gamping, Ngaglik, Depok dan Kecamatan Sleman.

Dengan jumlah kasus DBD ini, diprediksi dalam satu tahun ada kenaikan kasus.

Maka dari itu, sebagai langkah pencegahan pihaknya selalu mengingatkan kepada kelompok kerja operasional (pokjanal) DBD kecamatan untuk melakukan pemantauan di wilayahnya.

Dinkes Sleman pun menyediakan larvasida serta anggaran untuk foging dan beberapa program lainnya untuk menyukseskan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan kebersihan lingkungan.

"Mendorong masyarakat untuk melakukan gerakan satu rumah satu jumantik (G1R1J). Serta supervisi dan monitoring penatalaksanaan DBD di rumah sakit. Kami juga menyampaikan informasi tentang DBD selama pandemi Covid-19," imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo, mengungkapkan bahwa saat ini ada kemungkinan infeksi ganda akibat Covid-19 dan DBD.

Meski begitu, ia belum menemukan kasus tersebut hingga saat ini.

"Secara teori bisa saja terjadi penderita DBD juga menderita Covid atau sebaliknya. Tapi sejauh ini belum ditemukan kasus ganda tersebut di Sleman," ungkapnya.

Meski kedua penyakit ini memiliki cara penularan yang berbeda, namun sebagai bentuk pencegahannya tetap sama, yakni dengan perilaku hidup bersih sehat (PHBS).

Adapun DBD membutuhkan vector yaitu nyamuk untuk penularannya, dan masyarakat bisa melakukan PSN di lingkungannya agar tak ada tempat yang digunakan nyamuk untuk bertelur.

Sedangkan Covid-19 termasuk penyakit yang bisa menular secara langsung melalui droplet.

Beberapa langkah untuk pencegahannya adalah dengan selalu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, dan menyemprot disinfektan di barang-barang yang sering tersentuh. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved