Jembatan Selopamioro - Sriharjo Bantul Mulai Dibangun, Ditarget Rampung pada September 2020
Proses pembangunan jembatan yang ambruk tersebut dikabarkan menelan anggaran sebesar Rp12,8 miliar.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Langkah tersebut dilakukan, karena berkaca dari pengalaman, di mana jembatan sebelumnya ambruk karena tergerus luapan air sungai Oya, akibat badai cempaka.
"Jadi kalau terjadi banjir besar, seperti 2017 masih aman," kata dia.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Bantul, Datin Wisnu Pranyoto, berharap keberadaan jembatan yang menghubungkan dua desa itu nantinya dapat menghidupkan kembali sektor perekonomian warga, terutama sektor pariwisata.
Di mana Selopamioro dan Sriharjo merupakan dua desa yang memiliki potensi destinasi luar biasa.
Datin memandang, keberadaan jembatan nantinya menjadi akses sangat vital.
"Saya melihat jembatan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Salah satunya untuk menunjang akses ekonomi," katanya saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak).
Selain Datin, kegiatan sidak juga dihadiri oleh Damba Aktivis, Suradal dan Muhammad Dhavid.
Sejauh ini, menurut Datin, proses pembangunan jembatan sudah sesesui rencana.
Di lokasi pembangunan terlihat sudah ada aktifitas proyek.
Ada lima eskavator yang bekerja mengeruk tanah di tepian sungai untuk pondasi jembatan.
Sejumlah truk pengangkut lalu lalang membawa material.
Sembari menunggu jembatan rampung, kontraktor juga membangunkan jembatan sementara untuk akses warga.
Akses tersebut cukup penting, mengingat tanpa adanya jembatan penghubung, warga dua desa terpaksa harus menyeberang memutar cukup jauh. (*)