Jembatan Selopamioro - Sriharjo Bantul Mulai Dibangun, Ditarget Rampung pada September 2020
Proses pembangunan jembatan yang ambruk tersebut dikabarkan menelan anggaran sebesar Rp12,8 miliar.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Jetis, Desa Selopamioro dan Dusun Kedungmiri-Wunut di Kecamatan Imogiri Bantul ambruk akibat badai cempaka, pada akhir tahun 2017 lalu.
Kini, setelah dua tahun lebih, jembatan yang membentang diatas sungai Oya itu kembali dibangun.
Proses pembangunan jembatan tersebut menelan anggaran sebesar Rp12,8 miliar.
Dana itu bersumber dari dana hibah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat.
Pengerjaannya dilakukan oleh PT Surya Karya Setiabudi (SKS) dan ditargetkan bakal rampung pada September mendatang.
Pelaksana pembangunan dari PT SKS, Ari Eko, menjelaskan jembatan di Selopamioro dibangun tipe II skala nasional.
Memiliki panjang 80 meter dan lebar 7.5 meter.
Nantinya, kata dia, akan ada perbedaan jika dibandingkan dengan jembatan sebelumnya.
Jika sebelumnya adalah jembatan gantung dan hanya cukup untuk kendaraan roda dua, maka jembatan yang sedang dibangun itu memiliki desain mampu menahan kendaraan roda empat dan bisa berpapasan.
Hingga saat ini, proses pengerjaannya sudah pada tahap abutment atau bangunan bawah jembatan yang terletak di kedua ujung pilar jembatan.
"Di bagian utara dan Selatan. Setelah ini akan dilanjutkan pembangunan pilar dibagian tengah," kata Ari, saat menerima kunjungan Komisi C DPRD Bantul, Senin (22/6/2020).
Menurut dia, pembangunan jembatan yang membentang di atas sungai Oya itu sudah dikerjakan sejak hampir empat bulan lalu, tepatnya tanggal 5 Maret.
Pihaknya mengaku membutuhkan waktu sedikit lama karena yang dibangun adalah jembatan baru dan permanen.
Ia memastikan, nantinya jembatan aman dan kokoh meskipun berada dikawasan rawan banjir.
Pasalnya, posisi rangka jembatan dibangun setinggi dua meter di atas jalan desa.
Langkah tersebut dilakukan, karena berkaca dari pengalaman, di mana jembatan sebelumnya ambruk karena tergerus luapan air sungai Oya, akibat badai cempaka.
"Jadi kalau terjadi banjir besar, seperti 2017 masih aman," kata dia.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Bantul, Datin Wisnu Pranyoto, berharap keberadaan jembatan yang menghubungkan dua desa itu nantinya dapat menghidupkan kembali sektor perekonomian warga, terutama sektor pariwisata.
Di mana Selopamioro dan Sriharjo merupakan dua desa yang memiliki potensi destinasi luar biasa.
Datin memandang, keberadaan jembatan nantinya menjadi akses sangat vital.
"Saya melihat jembatan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Salah satunya untuk menunjang akses ekonomi," katanya saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak).
Selain Datin, kegiatan sidak juga dihadiri oleh Damba Aktivis, Suradal dan Muhammad Dhavid.
Sejauh ini, menurut Datin, proses pembangunan jembatan sudah sesesui rencana.
Di lokasi pembangunan terlihat sudah ada aktifitas proyek.
Ada lima eskavator yang bekerja mengeruk tanah di tepian sungai untuk pondasi jembatan.
Sejumlah truk pengangkut lalu lalang membawa material.
Sembari menunggu jembatan rampung, kontraktor juga membangunkan jembatan sementara untuk akses warga.
Akses tersebut cukup penting, mengingat tanpa adanya jembatan penghubung, warga dua desa terpaksa harus menyeberang memutar cukup jauh. (*)