Penjelasan Psikolog Soal Kenapa Ada Orang Tak Percaya Virus Corona Benar-benar Ada
Orang yang percaya pada munculnya wabah ini adalah mereka yang melihat langsung, pasien atau orang yang terinfeksi virus corona ini
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Hingga Selasa, 16 Juni 2020 ini Virus Corona telah menginfeksi lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia atau tepatnya sebanyak 8.099.768. Dengan angka kematian sebanyak 438.430 orang dan yang sembuh sebanyak 4.185.452 orang.
Meski jumlahnya sangat besar, namun ternyata ada sebagian orang yang tak percaya bahwa virus corona itu benar-benar ada. Bahkan mereka cenderung abai dan menuding bahwa isu ini merupakan akal-akalan dari pemerintah.
Kenapa ada sebagian orang tak percaya terhadap virus corona?
Psikolog Sosial Universitas Indonesia, Dr. Bagus Takwin M.Hum mengatakan orang yang percaya pada munculnya wabah ini adalah mereka yang melihat langsung, pasien atau orang yang terinfeksi virus ini.
Atau mereka tidak percaya adanya Covid-19, karena tidak memiliki pengalaman, tidak ada keluarga atau orang terdekat yang mengalami.
"Informasi tentang virus corona ini banyak sekali, sehingga dari situ orang bisa memilih informasi mana yang mau mereka percayai, atau tidak," kata Bagus saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/6/2020).
Kendati berbagai informasi edukatif telah disampaikan secara detil, namun tidak semua orang sepakat untuk mematuhi protokol kesehatan.
"Sebenarnya kalau dibilang sudah jelas (informasi Covid-19), belum tentu itu jelas bagi setiap orang," ungkap dia.
Virus seperti mitos atau hal gaib
Orang cenderung tidak percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Bagus mengatakan virus corona adalah sesuatu yang tidak terlihat.
"Bagaimana virus corona ini menginfeksi dan memengaruhi, tidak bisa dilihat langsung," kata Bagus.
Bahkan, dalam riset, peneliti menggunakan metode tertentu untuk menyimpulkan dan menjelaskan virus memengaruhi gejala tertentu pada tubuh.
Hal itu dibutuhkan pemahaman yang luas dan keahlian khusus, namun ada orang yang percaya dan tidak percaya.
"Tergantung pada seberapa kuat informasi tentang virus corona ini menggugah emosi orang," jelas dia.
Bagus mengungkapkan orang cenderung tidak percaya pada hal-hal yang tidak terlihat. Namun, kalau itu terkait dengan emosi, maka kemungkinan orang akan percaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/enam-pasien-covid-19-diy-sembuh-asal-sleman-bantul-gunungkidul-dan-kota-yogyakarta.jpg)